Kasus Penyakit Ginjal Kronik Merekedewan di Usia Produktif

Share

Penyakit ginjal kronik kini semakin marak menyasar kelompok usia produktif. Pergeseran pola hidup dan minimnya aktivitas fisik disinyalir menjadi pemicu utama lonjakan kasus ini, sebagaimana dilansir dari Detik Health.

Spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, Prof Dr dr Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM, menjelaskan bahwa penyakit ginjal kronik berpotensi mengintai usia muda. Penurunan fungsi organ tersebut kerap berlangsung secara perlahan tanpa disertai gejala awal yang menyolok.

"Dikatakan memang meningkat pada usia muda masih produktif, karena memang dengan perbaikan ekonomi jadi makanan lebih mudah didapat, jadi orang gampang gemuk, akibatnya bisa darah tinggi, bisa gula umur lebih awal, dan sering juga kurang olahraga. Itu yang sebenarnya faktor risiko untuk terjadinya penyakit ginjal kronik tadi," ujar Prof Endang dalam sesi interview The 6th Siloam Urology Nephrology Summit 2026 di Shangri-La, Jakarta Pusat, Sabtu (8/8/2026).

Mekanisme penyakit ginjal kronik yang berkembang secara bertahap membuat tubuh melakukan adaptasi. Dampaknya, penderita sering kali tidak merasakan gangguan kesehatan fisik meski fungsi organ ginjalnya sudah mulai menurun.

"Jadi penyakit ginjal kronik itu penyakit yang berjalan secara perlahan-lahan. Semua penyakit yang dibilang kronik itu adalah penyakit yang berjalan bertahap perlahan-lahan," jelas Prof Endang.

Seiring memburuknya kondisi ginjal, berbagai gangguan kesehatan lain mulai bermunculan. Penderita dapat mengalami kenaikan tekanan darah, penurunan produksi urine, anemia akibat merosotnya kadar hemoglobin, hingga komplikasi organ jantung.

Pada stadium lanjut, penderita umumnya datang dengan kondisi hemoglobin sangat rendah, porsi urine berkurang drastis, serta pembengkakan di area kaki dan perut. Sifatnya yang tidak bergejala awal ini membuat penyakit ginjal kronik dijuluki sebagai silent killer yang bisa berujung pada gagal ginjal total.

Pola Makan dan Gaya Hidup Sebagai Pemicu

Kemudahan akses terhadap makanan di era modern turut mendongkrak risiko kelebihan berat badan. Asupan tinggi gula dan garam yang dikonsumsi secara berlebihan menjadi pemicu munculnya hipertensi serta diabetes di usia lebih muda.

"Dengan perbaikan ekonomi, jadi makanan lebih mudah didapat, jadi orang gampang gemuk, akibatnya bisa darah tinggi, bisa gula umur lebih awal, dan sering juga kurang olahraga," kata Prof Endang.

Kurangnya aktivitas fisik memperparah peningkatan berat badan harian. Kombinasi antara pola makan tidak seimbang, obesitas, diabetes, serta hipertensi menjadi faktor risiko utama yang merusak jaringan ginjal secara perlahan.

5 Tahapan Penurunan Fungsi Ginjal

Penurunan fungsi organ ginjal terbagi dalam lima tingkatan stadium berdasarkan persentase kinerjanya dibanding kondisi normal:

  • Tahap 1: Fungsi ginjal masih berada di atas 90 persen. Penurunan kinerja tergolong ringan dan belum menimbulkan keluhan fisik.
  • Tahap 2: Fungsi ginjal berkisar di atas 60 persen, namun sudah mengalami penurunan jika dibandingkan kondisi tubuh sehat.
  • Tahap 3: Fungsi ginjal menyusut ke kisaran 30 hingga 60 persen. Pada fase ini, penurunan kinerja organ sudah terlihat jelas.
  • Tahap 4: Kinerja ginjal tersisa 15 sampai 30 persen. Pasien berada dalam kondisi penurunan fungsi berat yang membutuhkan penanganan medis intensif.
  • Tahap 5: Kinerja ginjal berada di bawah 15 persen. Sisa fungsi ginjal tidak lagi mampu menopang kebutuhan tubuh, sehingga pasien dinyatakan mengalami gagal ginjal.

Semakin tinggi tahapannya, daya saring tubuh terhadap zat sisa dan cairan akan semakin memburuk. Penanganan pada stadium awal difokuskan untuk mengobati pemicunya agar penurunan fungsi organ tidak memburuk.

"Kalau sudah cuci darah itu kalau sudah tahap 5 tadi. Jadi tidak semua penyakit ginjal itu cuci darah. Kalau tahapnya masih awal, diobati penyebabnya, dan dibatasi makanannya, targetnya supaya tidak cuci darah," kata Prof Endang.

Apabila pasien sudah memasuki stadium akhir atau tahap 5, opsi terapi yang tersedia meliputi hemodialisis (cuci darah menggunakan mesin), dialisis peritoneal (metode penyaringan melalui selaput rongga perut), serta tindakan transplantasi ginjal.

Langkah Deteksi Dini

Pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi kunci utama untuk mendeteksi gangguan ginjal sejak dini. Prof Endang menyebutkan bahwa tes urine dapat dimanfaatkan sebagai langkah skrining awal.

Jika ditemukan kejanggalan pada hasil tes urine, pemantauan dilanjutkan melalui pemeriksaan kadar kreatinin guna mengukur fungsi saring ginjal secara pasti.

"Kalau sudah ada kelainan juga, paling mudah memeriksa dengan USG abdomen. Di USG itu bisa dilihat ginjalnya normal atau enggak. Pemeriksaan sebenarnya sederhana dan itu bisa diperiksa di pelosok tanah air juga bisa," ujar Prof Endang.

Pengendalian penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi, dikombinasikan dengan pengaturan asupan protein serta cairan, efektif dalam memperlambat laju kerusakan organ ginjal.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author