Penyakit Lupus Pemicu Gagal Ginjal Kronis Dialami Perempuan Jakarta

Share

Seorang perempuan berusia 27 tahun bernama Rolivia Virginia asal Jakarta Pusat harus menjalani perawatan cuci darah secara rutin setelah didiagnosis menderita penyakit gagal ginjal kronis stadium 5. Penegasan mengenai kondisi kesehatan tersebut ia bagikan melalui media sosial Instagram pribadi miliknya sebagai sarana edukasi bagi masyarakat luas.

Kisah perjuangan melawan penyakit ini dilansir dari Detik Health pada Jumat (19/5/2026). Rolivia mendapati diagnosis medis tersebut pertama kali pada tahun 2020 ketika dirinya masih menginjak usia 21 tahun, di mana dokter menyatakan bahwa penurunan fungsi organ tersebut dipicu oleh kondisi autoimun lupus.

Penyakit lupus yang dideritanya sejak awal masa perkuliahan pada tahun 2017 tersebut dilaporkan telah menyebar dan menyerang berbagai organ tubuh vital lainnya. Selain merusak fungsi ginjal, komplikasi penyakit autoimun ini juga menyerang area saraf otak, paru-paru, hingga bagian kulit.

"Jadi lupus aku itu terakhir menyerang ginjal sampai benar-benar turun fungsi. Aku lupusnya sekitar 2017 pas awal-awal aku kuliah," cerita Rolivia.

Dampak dari diagnosis tersebut sempat membuat kondisi mental Rolivia menurun drastis karena keharusan menjalani tindakan cuci darah secara berkala. Selain memengaruhi kondisi psikologis, penumpukan cairan di dalam tubuhnya juga mengakibatkan kenaikan berat badan yang signifikan hingga mencapai 30 kilogram.

"Jadi aku harus dioperasi untuk bikin alat cuci darah malam itu juga. Dan akhrnya aku sudah menerima pelan-pelan. Sampai sekarang juga masih kayak suka 'kenapa gue?' tapi ya sudah berusaha menerima aja sih," kata Rolivia.

Dalam menjalani rutinitas perawatan medis yang panjang, Rolivia berupaya menjaga kesehatan mental dan kestabilan kondisi fisik dengan tetap beraktivitas secara bahagia. Ia meyakini bahwa tingkat kebahagiaan memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas kondisi tubuh pasien dalam menghadapi masa perawatan.

"Lebih baik ya udah kita jalanin aja dengan happy walaupun nggak tiap hari happy ya namanya manusia kadang sedih, kadang masih ada yang aku nggak terimanya," ujar Rolivia.

Saat ini kondisi kesehatan Rolivia mengalami perkembangan yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan masa awal diagnosis penyakitnya. Ia kini sudah mampu kembali menjalankan aktivitas normal setelah sebelumnya sempat mengalami keterbatasan fisik yang mengharuskannya menggunakan kursi roda.

"Toh semuanya sudah getting so much better dibanding dulu aku cuma bisa bolak-balik rumah sakit, cuma bisa di kursi roda, sekarang sudah bisa aktivitas normal. Yaitu syukurin aja jadi mungkin kuncinya adalah bersyukur itu yang bikin aku juga bisa berdamai dengan segala penyakit aku," tandas Rolivia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author