Kenali Penyebab Gagal Tumbuh pada Anak dan Cara Mengatasinya

Share

Penyebab gagal tumbuh atau weight faltering pada anak memerlukan perhatian serius dari orang tua. Kondisi ini terjadi ketika kenaikan berat badan anak seret secara terus-menerus.

Istilah gagal tumbuh digunakan untuk anak yang memiliki berat badan jauh lebih rendah atau tumbuh jauh lebih lambat daripada anak seusianya, seperti dilansir dari HaiBunda yang mengutip American Academy of Family Physicians (AAFP).

Orang tua disarankan untuk rutin memeriksa pertumbuhan anak setiap bulan. Pemeriksaan meliputi penimbangan berat badan, pengukuran panjang badan, serta evaluasi lingkar kepala.

Gangguan pertumbuhan ini muncul saat anak tidak memperoleh kalori yang cukup untuk tumbuh normal. Kondisi tersebut dipicu oleh masalah pemberian makanan, kebutuhan nutrisi yang tinggi, atau gangguan medis dalam menyerap nutrisi.

Menurut data Cleveland Clinic, gagal tumbuh bisa terjadi kapan saja selama masa kanak-kanak. Namun, fase peralihan seperti saat anak mulai lepas ASI atau susu formula menuju makanan keluarga menjadi periode yang paling rentan.

Pada bayi, pemicu asupan kalori rendah umumnya meliputi rendahnya produksi ASI ibu, kesulitan pelekatan saat menyusui, atau kurangnya konsumsi susu harian. Sementara pada anak yang lebih besar, kondisi ini bisa disebabkan oleh gangguan makan seperti avoidant/restrictive food intake disorder.

Faktor Medis dan Penyerapan Nutrisi

Selain masalah asupan, gangguan pertumbuhan dapat terjadi karena tubuh anak tidak mampu memecah dan memproses nutrisi dengan baik. Beberapa kondisi medis yang memengaruhi penyerapan nutrisi antara lain penyakit celiac, kelainan anatomi saluran pencernaan, fibrosis kistik, penyakit radang usus, serta alergi protein susu.

Faktor lain adalah meningkatnya kebutuhan metabolik, di mana tubuh membutuhkan energi lebih besar untuk berfungsi. Kondisi ini biasanya dipicu oleh penyakit jantung bawaan, gangguan paru-paru bawaan, hipertiroidisme, kelainan metabolisme bawaan, penyakit ginjal, atau tuberkulosis.

Gejala dan Tanda yang Perlu Diwaspadai

Orang tua dapat mengidentifikasi gejala gagal tumbuh melalui beberapa tanda fisik dan perilaku anak. Tanda yang paling terlihat adalah berat badan yang tidak naik sesuai usia serta panjang atau tinggi badan yang tidak bertambah.

Anak yang mengalami kondisi ini juga cenderung tidur lebih lama dari biasanya atau sering tertidur saat sedang makan. Selain itu, mereka biasanya kurang berinteraksi dengan lingkungan sekitar secara aktif sesuai tahap perkembangannya.

Tips Mengatasi Risiko Gagal Tumbuh

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua untuk menekan risiko gangguan pertumbuhan pada anak. Pertama, perhatikan takaran porsi serat agar tidak diberikan secara berlebihan kepada anak.

Komposisi MPASI harus tetap seimbang dengan kandungan karbohidrat, lemak, dan protein. Utamakan asupan protein hewani karena memiliki kandungan asam amino lengkap yang penting untuk perkembangan otak.

Kedua, lakukan pemeriksaan tumbuh kembang secara rutin demi mempermudah pemantauan grafik berat dan tinggi badan. Ketiga, berikan porsi makan yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Jika anak menolak makanan, orang tua bisa mencoba memberikan porsi yang lebih kecil tetapi dengan frekuensi yang lebih sering. Keempat, buat variasi menu baru dengan mengubah bentuk, rasa, tekstur, atau peralatan makan agar anak tidak bosan.

Kelima, berikan kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi dengan makan menggunakan tangan sendiri. Langkah ini dapat memicu semangat makan anak sekaligus melatih mereka mengenali tekstur makanan dengan baik.

Orang tua dianjurkan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak jika menemukan indikasi kenaikan berat badan yang terus-menerus seret atau jika anak menunjukkan keluhan medis lainnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author