IDAI Ungkap Penyebab dan Gejala Hipertensi pada Anak yang Kian Meningkat
Anggapan bahwa tekanan darah tinggi hanya menyerang orang dewasa kini tidak lagi sepenuhnya tepat. Kasus hipertensi pada usia anak-anak, terutama yang sudah menginjak usia sekolah, dilaporkan mengalami tren peningkatan.
Dikutip dari HaiBunda, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa penyakit ini diperkirakan telah menyerang lebih dari satu miliar penduduk di seluruh dunia. Angka kejadiannya pada kelompok anak secara umum berada di kisaran 1 hingga 2 persen.
Sebuah riset di Amerika Serikat terhadap ribuan siswa bahkan menunjukkan prevalensi yang menyentuh angka 4,5 persen. Kondisi ini membawa dampak jangka panjang karena pasien anak memiliki risiko hingga empat kali lipat kembali mengalami masalah yang sama saat dewasa, yang memicu gangguan jantung serta pembuluh darah.
Penyebab tekanan darah tinggi pada kelompok usia ini diklasifikasikan ke dalam dua kategori besar, yaitu primer dan sekunder. IDAI membagi faktor-faktor tersebut berdasarkan pemicu spesifiknya.
Jenis primer umumnya dipengaruhi oleh faktor genetika serta pola hidup harian. Pemicunya meliputi riwayat keluarga dengan kondisi serupa, kelahiran prematur, berat badan lahir rendah (BBLR), kurangnya aktivitas fisik, konsumsi garam berlebih, hingga paparan asap rokok.
Sementara itu, jenis sekunder dipicu oleh adanya penyakit penyerta yang diderita pasien. Gangguan medis yang paling sering melatarbelakanginya adalah kelainan fungsi ginjal, kelainan jantung, serta adanya gangguan pada sistem hormon.
Variasi Gejala Berdasarkan Usia
Tanda-tanda klinis yang muncul pada pasien sangat bergantung pada usia mereka. Kelompok bayi baru lahir menunjukkan indikasi yang berbeda dengan kelompok usia yang lebih besar.
Pada bayi baru lahir, gejala yang wajib diwaspadai meliputi sesak napas, keluar keringat berlebih, tampak gelisah, kulit pucat atau sianosis, muntah, hingga kejang. Deteksi dini pada fase ini memerlukan kecermatan orang tua.
Untuk anak dengan usia yang lebih besar, tanda-tanda yang muncul cenderung lebih bervariasi. Gejalanya mencakup rasa lelah, sakit kepala, mual, mimisan, penglihatan kabur secara mendadak, nyeri dada, pertumbuhan fisik yang pendek, penurunan kesadaran, hingga kelumpuhan otot.
Panduan Skrining dan Pengukuran
Pemeriksaan tekanan darah idealnya mulai diterapkan setahun sekali bagi anak yang telah menginjak usia 3 tahun atau lebih. Namun, tindakan skrining dapat dilakukan lebih awal jika terdapat indikator risiko tertentu.
Kriteria bayi di bawah 3 tahun yang memerlukan pemeriksaan dini meliputi kelahiran prematur kurang dari 32 minggu, riwayat perawatan intensif di NICU, serta penyakit jantung bawaan. Faktor lain adalah infeksi saluran kemih berulang, kelainan ginjal, keganasan, atau keluarga yang menjalani cuci darah usia muda.
IDAI menetapkan standar operasional baku untuk mengukur tekanan darah pada anak secara akurat. Langkah pertama adalah memastikan pasien duduk dengan nyaman di ruangan yang tenang serta punggung tersangga dengan baik.
Posisi kaki tidak boleh saling menyilang dan kedua telapak kaki harus menapak rata di atas lantai. Manset tensimeter yang sesuai ukuran kemudian dipasang pada lengan atas yang terbuka, tepatnya sekitar 3 cm di atas siku atau sejajar jantung.
Proses pemantauan ini wajib dilakukan sebanyak 3 kali berturut-turut. Petugas medis atau pengukur harus memberikan jeda waktu istirahat selama 1 menit pada setiap sesi pengukuran.
Langkah Penanganan Medis dan Pola Makan
Langkah penanggulangan bagi pasien yang terdiagnosis meliputi kontrol rutin ke dokter spesifik serta mengonsumsi obat-obatan reguler sesuai dengan indikasi medis. Aktivitas fisik berupa olahraga juga wajib dijadwalkan secara teratur.
Intervensi pada pola makan menjadi pilar penting yang direkomendasikan untuk menekan angka tekanan darah. Pasien disarankan mengonsumsi buah, sayur, gandum utuh sebagai sumber karbohidrat, serta produk susu rendah lemak.
Asupan protein dapat dipenuhi dari daging unggas, ikan, kacang-kacangan, maupun daging merah yang tidak berlemak. Sebaliknya, pembatasan ketat harus diterapkan pada konsumsi makanan tinggi gula, camilan manis, serta kandungan garam atau natrium.