Ketahui Penyebab Produksi ASI Rendah dan Faktor yang Memengaruhinya
Menyusui menjadi momen penting sekaligus penuh tantangan bagi seorang ibu. Salah satu kekhawatiran yang kerap muncul yaitu produksi ASI yang dirasa tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan buah hati.
Dilansir dari HaiBunda, banyak ibu yang merasa produksi ASI mereka kurang secara subjektif, padahal kondisi tersebut belum tentu demikian secara medis. Kekhawatiran ini sering kali memicu keputusan untuk berhenti menyusui lebih awal.
Beberapa survei menunjukkan bahwa sekitar 30 hingga 80 persen ibu menyusui pernah merasa produksi ASI mereka tidak mencukupi kebutuhan bayi. Perasaan tersebut sangat umum terjadi, walaupun tidak selalu mencerminkan kondisi biologis yang sebenarnya.
Minimnya edukasi serta dukungan terhadap ibu menyusui menjadi pemicu utama munculnya persepsi ini. Banyak ibu tidak memperoleh informasi memadai mengenai mekanisme tubuh dalam memproduksi ASI.
Para ahli laktasi menyebutkan bahwa hanya sekitar 5 sampai 10 persen ibu yang benar-benar mengalami ketidakmampuan menyusui secara fisiologis. Kondisi ini umumnya berkaitan erat dengan masalah medis yang memengaruhi fungsi organ tubuh.
Shannon Kelleher, seorang peneliti ilmu biomedis dan nutrisi di Universitas Massachusetts Lowell, menerangkan bahwa produksi ASI dipengaruhi oleh berbagai faktor biologis yang kompleks. Melalui laman National Geographic, ia menjabarkan beberapa aspek yang terlibat.
Gangguan kesehatan tertentu pada ibu dapat mengganggu optimalisasi produksi ASI. Beberapa di antaranya meliputi gangguan tiroid, diabetes, hingga sindrom ovarium polikistik (PCOS) yang memengaruhi keseimbangan hormon penting.
Riwayat tindakan bedah pada payudara seperti operasi pembesaran, pengecilan, atau mastektomi juga berisiko mengganggu kelenjar susu. Selain itu, kondisi langka berupa jaringan payudara yang tidak berkembang baik sejak pubertas turut membatasi volume ASI.
Kinerja hormon sangat menentukan kelancaran laktasi. Ketika hormon tubuh tidak seimbang atau ibu mengalami stres kronis, energi tubuh untuk memproduksi ASI secara optimal akan berkurang.
Asupan nutrisi yang buruk serta kondisi obesitas juga dapat memengaruhi kadar hormon dalam tubuh ibu. Pola makan yang tidak seimbang ini nantinya berpengaruh pada kandungan nutrisi di dalam ASI seperti kadar lemak dan vitamin.
Penelitian terbaru mulai menyoroti keterkaitan faktor genetik dengan kapasitas produksi ASI. Sejumlah studi mendeteksi adanya variasi gen tertentu yang memengaruhi kemampuan sekresi ASI, meski riset di bidang ini masih terbatas.
Hambatan Non-Medis dalam Proses Menyusui
Konsultan laktasi praktik pribadi (IBCLC), Rachel O’Brien, menegaskan bahwa hambatan menyusui sering kali berasal dari faktor non-medis atau masalah teknis harian.
Teknik pelekatan atau latch yang kurang tepat menjadi salah satu pemicu utama. Pelekatan yang salah membuat bayi tidak dapat mengisap dengan efektif, sehingga payudara tidak terstimulasi untuk memproduksi ASI kembali.
Manajemen laktasi yang keliru seperti jarang menyusui atau tidak rutin memompa ASI pada fase awal melahirkan dapat menghambat produksi. Penggunaan ukuran corong pompa yang tidak pas serta intervensi medis saat persalinan juga memberi pengaruh buruk.
Kondisi fisik bayi turut menentukan keberhasilan proses ini. Bayi yang mudah mengantuk, memiliki daya hisap lemah, atau mengalami kondisi lidah pendek (tongue-tie) membuat proses menyusui menjadi kurang efektif.
Rachel O’Brien juga menambahkan bahwa penelitian ilmiah mengenai ASI manusia masih tergolong minim hingga saat ini. Keterbatasan riset tersebut membuat beberapa aspek laktasi, termasuk penyebab pasti rendahnya produksi ASI, belum dipahami secara menyeluruh.