Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kebakaran Hutan Ekstrem di Kalimantan
Kebakaran hutan dan lahan kembali melanda wilayah Kalimantan, dengan ribuan personel dan armada udara dikerahkan untuk menangani kebakaran di Kalimantan Barat, Tengah, dan Selatan, dilansir dari Detik iNET. Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Communications mengungkap bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia meningkatkan peluang munculnya kondisi cuaca kebakaran ekstrem hingga 88-152% dibandingkan era praindustri. Indikator Fire Weather Index (FWI) digunakan untuk mengukur dukungan cuaca terhadap kebakaran. Tahun-tahun dengan kebakaran ekstrem bertepatan dengan kondisi fire weather yang sangat ekstrem.
"Ketika kondisi atmosfer membuat vegetasi mudah kehilangan kelembapan, api memiliki bahan bakar lebih banyak dan kering," ujar John T. Abatzoglou, penulis utama penelitian tersebut.
Pada tahun kebakaran ekstrem, jumlah kebakaran besar meningkat empat kali lipat dan emisi karbon dari kebakaran naik lima kali lipat dibandingkan tahun non-ekstrem. Periode cuaca yang mendukung kebakaran menjadi semakin ekstrem, sehingga api dapat menyebar lebih cepat dari kemampuan pemadaman manusia.
"Di sebagian besar kawasan hutan yang diteliti, tahun dengan kebakaran ekstrem erat kaitannya dengan kondisi fire weather sangat tinggi," kata Abatzoglou. Analisis global menunjukkan peningkatan median 73% jumlah kebakaran dan 321% jumlah kebakaran sangat besar pada tahun ekstrem, serta peningkatan emisi karbon 405%.
Wilayah Amazon memiliki kenaikan risiko paling tinggi, dengan kemungkinan kondisi fire weather ekstrem meningkat lebih dari empat kali lipat. Para peneliti menegaskan hubungan iklim dan kebakaran hutan tidak sederhana, karena faktor lain seperti deforestasi dan penggunaan lahan juga berperan penting. "Perubahan iklim mengubah kondisi sehingga kebakaran yang dipicu faktor lain menjadi lebih mudah berkembang," ujar peneliti.
Kalimantan dengan hutan tropis luas dan lahan gambut rentan terbakar saat kondisi kering, sehingga pengendalian kebakaran menjadi semakin berat.
Studi ini menunjukkan bahwa saat fire weather ekstrem terjadi luas, sumber daya pemadaman bisa melampaui kapasitas yang tersedia. Penelitian menganalisis contoh tahun kebakaran ekstrem seperti kebakaran Australia 2019-2020, barat Amerika Serikat 2020, dan Kanada 2023. Para ilmuwan mendefinisikan tahun kebakaran ekstrem sebagai tahun dengan luas terbakar terbesar dalam catatan MODIS 2002-2023, dengan luas hutan terbakar lima kali lebih besar dari rata-rata tahun lain.
Temuan ini menjelaskan mengapa karhutla di masa depan semakin menantang, dan pemadaman cepat mungkin tidak cukup tanpa upaya pencegahan dan kesiapan sumber daya pemadam.