AS dan Iran Gelar Perundingan di Swiss di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
Delegasi Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan memulai perundingan diplomatik di Swiss pada Minggu (21/06) waktu setempat guna membahas isu nuklir dan gencatan senjata. Langkah ini tetap berjalan meskipun militer Iran sempat menyatakan penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi serangan Israel di Lebanon selatan.
Dilansir dari Detikcom, ketegangan ini terjadi setelah munculnya nota kesepahaman (MoU) awal yang ditandatangani presiden kedua negara untuk mengakhiri perang dalam 60 hari ke depan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan pertempuran masif masih pecah, termasuk serangan udara Israel di Nabatieh yang menewaskan 47 orang.
Pemerintah Pakistan bertindak sebagai mediator dalam konflik ini, dengan kehadiran Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di Swiss. Di sisi lain, Gedung Putih bersikeras bahwa kesepakatan damai tetap berjalan walaupun eskalasi militer terus meningkat di Lebanon selatan.
Militer Amerika Serikat langsung mengeluarkan pernyataan terkait situasi jalur laut internasional tersebut.
"lalu lintas tetap berjalan." kata Militer AS.
Sebelum bertolak menuju Swiss dari Washington DC pada Sabtu (20/06) malam, Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan pandangannya mengenai situasi konflik antara Israel dan Hizbullah.
"Keadaan sebenarnya mulai membaik di sana, dan situasinya sedikit melambat." kata JD Vance, Wakil Presiden AS.
Vance menambahkan bahwa stabilitas regional merupakan prioritas utama dari rangkaian diplomasi yang sedang berjalan ini.
"Ini adalah sesuatu yang harus terus kita kelola untuk memastikan bahwa Israel dan Lebanon sama-sama aman dan terlindungi. Itulah tujuan utama dari ini, yaitu membuat seluruh kawasan aman dan stabil," ujar JD Vance, Wakil Presiden AS.
Sementara itu, delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan posisi mereka.
"menuntut pihak seberang memenuhi komitmennya." kata Esmail Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga melayangkan tuduhan serius kepada pihak Israel atas rentetan serangan udara yang terus terjadi.
"perang abadi" tuduh Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Araghchi menegaskan bahwa segala bentuk pelanggaran terhadap nota kesepahaman akan menjadi tanggung jawab penuh pihak Amerika Serikat.
"akan ditimpakan sebagai tanggung jawab AS" tegas Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Di kubu Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan domestik yang besar untuk melanjutkan operasi militer.
"terus bergerak untuk melenyapkan ancaman yang datang seketika" tegas juru bicara Militer Israel.
Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan kanan ekstrem, Itamar Ben Gvir, merespons kematian empat tentara mereka dengan kecaman keras melalui pernyataan tertulis.
"Lebanon harus dibakar… Untuk setiap tetes air mata ibu Israel, 1.000 ibu Lebanon harus menangis," tulis Itamar Ben Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel.
Juru bicara militer Israel lainnya juga menegaskan komitmen operasional mereka di pos perbatasan selatan.
"terus melenyapkan ancaman yang ada, merespons setiap pelanggaran Hizbullah, dan melakukan apa pun yang diperlukan demi melindungi warga sipil kami" tegas Effie Defrin, Juru Bicara Militer Israel.
Di pihak lawan, Hizbullah mengklaim telah berhasil menghancurkan tiga tank Israel menggunakan rudal kendali dalam pertempuran terbaru.
"rencana untuk melenyapkan Hizbullah telah gagal" kata Sheikh Naim Qassem, Sekretaris Jenderal Hizbullah.
Qassem kembali menegaskan klaim tersebut dalam pernyataan terpisah pada hari Jumat mengenai mundurnya pasukan lawan.
"rencana melenyapkan Hizbullah telah gagal, dan pasukan Israel akan mundur dari setiap jengkal tanah kami" deklarasi Sheikh Naim Qassem, Sekretaris Jenderal Hizbullah.
Warga Lebanon yang mengungsi akibat kerusakan puluhan permukiman menyatakan skeptisisme mereka terhadap efektivitas perjanjian gencatan senjata ini.
"Perjanjian itu bagus, dan kita semua ingin damai. Tapi Israel tidak pernah mematuhinya," kata seorang pria kepada Reuters.
Warga tersebut meragukan komitmen jangka panjang dari kesepakatan damai yang telah berulang kali dibuat.
"Sudah berapa kali mereka membuat perjanjian? Lebih dari sekali, dan mereka tidak pernah berkomitmen." kata seorang pria kepada Reuters.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan total korban tewas sejak konflik meletus telah melampaui 3.900 orang dan 11.600 lainnya luka-lukasi. Sebagai langkah lanjutan, Departemen Luar Negeri AS menjadwalkan pembicaraan langsung antara pemerintah Lebanon dan Israel di Washington pada pekan depan.