Dokter Gigi Gunakan Petroleum Jelly untuk Lindungi Bibir

Share

Masalah bibir kering dan retak sering dianggap sepele sehingga diatasi dengan pelembab sembarangan. Padahal, jaringan lunak pada rongga mulut ini memiliki karakteristik khusus yang berbeda dari kulit wajah. Area bibir berfungsi sebagai jembatan antara kulit luar dan bagian dalam mulut.

Aktivitas harian seperti berbicara, makan, hingga tersenyum membuat area ini terus bergerak aktif. Pergerakan konstan tersebut memicu timbulnya retakan halus atau microcracks saat kondisi bibir kering. Jika pemulihan dibiarkan tanpa penanganan, peradangan bibir atau cheilitis dapat terjadi.

Peradangan juga bisa muncul pada sudut bibir kiri dan kanan yang dikenal sebagai angular cheilitis. Kondisi ini ditandai dengan kulit memerah, perih, serta retakan di ujung mulut.

Hasil sejumlah riset yang dilansir dari Detik Health menunjukkan bahwa kerja pelembab bibir terbagi dalam tiga jenis mekanisme utama. Mekanisme pertama adalah oklusif yang membentuk lapisan pelindung di atas permukaan kulit agar kandungan air tidak menguap. Mekanisme kedua yaitu humektan seperti gliserin dan hyaluronic acid yang menarik air dari udara atau lapisan kulit dalam.

Mekanisme ketiga berupa emolien yang diwakili lanolin dan shea butter untuk mengisi celah sel kulit agar terasa halus. Di antara ketiga jenis tersebut, petroleum jelly sebagai bahan oklusif dinilai paling optimal mencegah penguapan air. Kandungan petrolatum mampu menekan kadar transepidermal water loss hingga rentang 50 sampai 99 persen tergantung kondisi pemakaiannya. Namun, bahan ini bekerja mengunci cairan yang sudah ada, bukan menambah kelembapan baru.

Pengaplikasian petroleum jelly disarankan dilakukan ketika bibir masih sedikit basah, contohnya seusai minum air atau mandi. Sebaliknya, pengolesan saat bibir terlanjur kering membuat hasilnya kurang maksimal. Keamanan bahan ini terbukti di dunia kedokteran gigi melalui pemanfaatan petroleum jelly grade medis.

Tenaga medis rutin membalurkannya ke area sekitar mulut pasien untuk mencegah sarung tangan melekat pada gusi maupun bibir selama prosedur medis berlangsung. Kondisi bibir pecah juga berkaitan rapat dengan keluhan mulut kering atau xerostomia. Penggunaan pelembab khusus area mulut secara berkala dapat meredakan rasa tidak nyaman sekaligus menjaga kestabilan produksi air liur.

Salep berbasis petroleum jelly menjadi pertolongan pertama yang dianjurkan untuk mengatasi masalah angular cheilitis. Masalah pada sudut bibir ini umumnya dipicu iritasi akibat paparan air liur yang terus-menerus.

Meski terbukti efektif, pemakaian pelembab yang berlebihan tanpa menghentikan kebiasaan menjilat bibir tetap menimbulkan risiko baru. Kelembapan berlebih di area tersebut berpotensi memicu infeksi jamur atau cheilocandidiasis. Pelembab bibir bertindak sebagai lapisan pelindung luar. Upaya penyembuhan tetap wajib diimbangi dengan menghentikan kebiasaan menjilat bibir secara kesadaran penuh.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author