Pino Bahari Soroti Jaminan Masa Tua Atlet Usai Alami Kecelakaan
Kondisi memprihatinkan kini menimpa legenda tinju Indonesia, Pino Bahari, setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Peristiwa malang tersebut terjadi di kawasan Sanur pada 13 April lalu.
Kecelakaan sepeda motor itu menyebabkan empat tulang rusuk kiri dan kaki kiri mantan atlet berusia 53 tahun tersebut patah. Situasi ini membuat sang peraih emas Asian Games 1990 pasrah.
Keterbatasan finansial menjadi kendala utama dalam menjalani perawatan medis yang membutuhkan biaya besar. Mantan petinju asal Bali ini pun mengungkapkan kondisi kesehatannya saat ini.
"Waktu itu, biaya operasi membutuhkan sekitar Rp200 juta. Beruntungnya sebagian besar masih di tanggung oleh BPJS Kesehatan. Sekarang sudah berangsur membaik meskipun gerak saya terbatas,"
Dilansir dari Bola, Pino Bahari merupakan petinju terakhir Indonesia yang sukses mempersembahkan medali emas pada ajang Asian Games 1990 di Beijing, China.
Sebelum mengalami musibah, Pino sempat menyambung hidup dengan bekerja di perusahaan keamanan, menjadi pelatih sasana, hingga bekerja sebagai pengemudi daring.
Pada hari yang sama, Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga (Wamenpora) Taufik Hidayat sedianya dijadwalkan untuk mengunjungi kediaman Pino di Bali.
Namun, kunjungan resmi tersebut batal terlaksana karena agenda kedinasan lain yang harus dihadiri oleh pihak kementerian.
Taufik Hidayat bersama Menpora Erick Thohir diketahui sedang berada di Bali untuk menghadiri rangkaian acara SEA Ministerial Meeting On Youth and Sports 2026.
Pino menyatakan dirinya tetap mengapresiasi komunikasi personal yang dilakukan oleh sang Wamenpora untuk menanyakan kondisinya saat ini.
"Saya bersyukur beliau masih ingat dan berusaha menyempatkan diri menjenguk saya. Tapi memang itu masih secara pribadi, belum atas nama pemerintah,"
Hingga kini, belum ada bantuan resmi yang mengalir dari pihak pemerintah ataupun instansi terkait untuk meringankan beban sang mantan atlet.
Berkaca dari pengalaman pribadinya, Pino sangat berharap agar pemerintah segera merumuskan regulasi khusus yang menjamin kesejahteraan para atlet setelah pensiun.
"Harus ada regulasi atau undang-undang yang menjamin masa depan atlet. Jangan sampai setelah selesai membela negara, mereka kesulitan hidup,"
Kebijakan tersebut dinilai sangat krusial agar para orang tua tidak ragu memberikan dukungan kepada anak-anak mereka untuk berkarier di dunia olahraga nasional.
"Kalau ada jaminan masa tua yang jelas, orang tua pasti lebih yakin mendukung anaknya menjadi atlet nasional,"