Pixar Rilis Toy Story 5 yang Soroti Dampak Media Sosial

Share

Pixar Animation Studios bersiap merilis film terbaru mereka berjudul Toy Story 5 di bioskop Amerika Serikat dan Inggris pada 19 Juni 2026. Film ini menyoroti dampak perangkat digital dan media sosial terhadap anak-anak melalui karakter utama bernama Bonnie yang merasa kesepian.

Kisah kali ini berfokus pada kecemasan mainan klasik terhadap teknologi modern saat orang tua Bonnie membelikannya sebuah tablet pintar bernama Lilypad. Dilansir dari BBC, konflik emosional muncul saat anak berusia delapan tahun tersebut mengalami kesulitan bersosialisasi di dunia nyata.

"Why won't anyone be my friend?" tanya Bonnie, karakter yang disuarakan oleh Scarlett Spears.

Permasalahan ini memicu perdebatan di antara para mainan mengenai eksistensi mereka di era digital. Mainan koboi veteran, Woody, bahkan memberikan pandangannya mengenai perkembangan teknologi tersebut kepada teman-temannya.

"tech is for everything." kata Woody, karakter yang disuarakan oleh Tom Hanks.

Kritikus film dari berbagai media memberikan tanggapan yang beragam mengenai kualitas sekuel kelima ini. Sebagian kritikus memuji keberanian Pixar dalam menyajikan cerita yang relevan dengan masa kini.

"Against all odds, those wizards at Pixar have done it again… resulting in one of their best films in recent memory." ujar Dan Bayer, kritikus dari Next Best Picture.

Bayer menambahkan bahwa film ini memberikan porsi emosional yang seimbang bagi penonton.

"Toy Story 5 contains all the series’s hallmarks, but foregrounds the human side of the story in a way the series has never done before." lanjut Dan Bayer, kritikus dari Next Best Picture.

Pujian senada juga datang dari kritikus lain yang menilai waralaba ini tetap mempertahankan kualitasnya yang luar biasa.

"Against all odds, one of the greatest franchises ever created has delivered yet another gem." kata David Gonzalez, kritikus dari The Cinematic Reel.

Gonzalez mengagumi penulisan naskah yang disajikan oleh sutradara Andrew Stanton dan McKenna Harris.

"As with every entry in the franchise, the film’s screenplay remains immaculate." tambah David Gonzalez, kritikus dari The Cinematic Reel.

Menurutnya, perkembangan cerita dalam film ini berjalan selaras dengan kedewasaan para penonton setianya.

"It continues the franchise’s incredible tradition of evolving alongside its audience." tutur David Gonzalez, kritikus dari The Cinematic Reel.

Beberapa kritikus film lain juga menyebutkan bahwa Toy Story 5 menjadi tambahan yang sangat layak bagi kelanjutan petualangan Buzz dan kawan-kawan.

"Toy Story 5 is yet another worthy addition to what has been one of our most consistently great film franchises." kata Joshua Mbonu, kritikus dari Geek Vibes Nation.

Mbonu menilai film ini berhasil memberikan dampak emosional yang sama kuatnya baik untuk karakter mainan maupun manusia.

"5 is truly the first film to bring an equal amount of emotional resonance to both toy and human characters." tambah Joshua Mbonu, kritikus dari Geek Vibes Nation.

Meski demikian, ia mencatat adanya kekurangan dalam struktur narasi yang terasa terlalu padat.

"The film is definitely rougher around the edges compared to previous entries, with its many cluttered subplots that are often incredibly disjointed." lanjut Joshua Mbonu, kritikus dari Geek Vibes Nation.

Kritikus lain membandingkan kualitas sekuel ini dengan trilogy awalnya yang dianggap sebagai mahakarya yang sulit ditandingi.

"The first three are pretty much unassailable masterpieces. I don’t know if Toy Story 5 attains those first films’ unreachable heights, but I can say it’s yet another fantastic addition to a series that has maintained a consistently high level of quality for the past 30 years." kata Shakyl Lambert, kritikus dari CGMagazine.

Tessa Smith dari Mama's Geeky menilai film ini sempat goyah di awal namun berhasil diselesaikan dengan pesona khas Pixar.

"While it falters a bit at the start, it pulls itself together brilliantly to deliver that classic Pixar charm." ujar Tessa Smith, kritikus dari Mama’s Geeky.

Smith juga menggarisbawahi bahwa fokus utama penceritaan kali ini memberikan ruang lebih kepada karakter Jessie.

"The real triumph of Toy Story 5 is that it belongs to Jessie and Bonnie." tambah Tessa Smith, kritikus dari Mama’s Geeky.

Namun, ia juga merasakan adanya ketidakselarasan akibat banyaknya alur cerita yang berjalan bersamaan.

"The narrative feels somewhat disjointed as it juggles multiple storylines." lanjut Tessa Smith, kritikus dari Mama’s Geeky.

Kritik tajam datang dari Jake Cole yang menilai keunikan estetika yang biasanya melekat pada waralaba ini justru menghilang.

"The aesthetic whimsy that’s made the Toy Story movies so popular is all but absent in Stanton’s film." kata Jake Cole, kritikus dari Slant Magazine.

Cole berpendapat bahwa kembalinya beberapa karakter lama terasa dipaksakan demi menyatukan kembali kelompok mainan tersebut.

"The hamfisted subplot about Buzz’s desire to propose to the cowgirl and the return of Woody… feel like nothing more than thin justifications for getting the gang back together." tambah Jake Cole, kritikus dari Slant Magazine.

Ia menyimpulkan bahwa sekuel ini gagal membangun struktur cerita yang kokoh di atas topik baru yang sebenarnya menarik.

"For the first time, a seemingly unnecessary Toy Story sequel has at last pushed the material too far, finding a compelling new topic but failing to build a sturdy structure on top of it." lanjut Jake Cole, kritikus dari Slant Magazine.

Kritikus Nick Schager menilai film ini tetap memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan film animasi sejenis lainnya di pasar saat ini.

"It’s not the series’ best but, in most respects, is still better than the rest." kata Nick Schager, kritikus dari The Daily Beast.

Sementara itu, Owen Gleiberman memberikan perumpamaan menarik mengenai posisi film ini dalam sejarah waralaba Toy Story.

"If the original Toy Story (still my favorite) is “Meet the Beatles,” and Toy Story 3 is “Sgt. Pepper,” the splendidly catchy and seductive Toy Story 5 feels like “Abbey Road.”" kata Owen Gleiberman, kritikus dari Variety.

Gleiberman menyatakan bahwa keseluruhan film ini merangkum keajaiban dari seluruh seri pendahulunya dengan sangat indah.

"The truth is that the Toy Story movies are all beautiful, all brilliant, all different, and they work all together now…It’s a sublime summing up, a movie that reflects the whole series in its magic mirror." tambah Owen Gleiberman, kritikus dari Variety.

Ia juga memuji bagaimana keseruan dalam film ini terus meningkat hingga mencapai puncaknya.

"Toy Story 5 escalates in delight (the climactic wedding ceremony must be seen to be believed)." lanjut Owen Gleiberman, kritikus dari Variety.

Di sisi lain, Chris Tilly melihat adanya peningkatan kualitas yang signifikan jika dibandingkan dengan film keempat.

"A marked improvement on its predecessor." ujar Chris Tilly, kritikus dari Dexerto.

Ian Sandwell mencatat bahwa sekuel kelima ini menjadi film pertama dalam waralaba yang sangat merefleksikan era pembuatannya.

"Previous Toy Story movies have been timeless, but Toy Story 5 is the first one to feel of its time." kata Ian Sandwell, kritikus dari Digital Spy.

Sandwell memandang perubahan arah ini sebagai sesuatu yang positif bagi kelanjutan waralaba.

"Toy Story 5 feels like a fresh start for the series, which is no bad thing." tambah Ian Sandwell, kritikus dari Digital Spy.

Kritikus Allison Rose menilai bahwa jalan cerita film ini kurang memiliki kekompakan karena terlalu banyak hal yang ingin disampaikan sekaligus.

"Unlike past films, this one seems to have a somewhat less cohesive storyline and tends to juggle several balls in the air all at once." kata Allison Rose, kritikus dari FlickDirect.

Rose menambahkan bahwa penonton dewasa mungkin akan menganggap film ini sebagai entri terlemah dari seluruh seri.

"For older audiences, this is the weakest of the series and could have been a straight-to-Disney+ streaming release." tambah Allison Rose, kritikus dari FlickDirect.

Brian Eggert berpendapat bahwa Pixar sekali lagi berhasil membuktikan kemampuan mereka dalam membuat sekuel yang mengejutkan penonton.

"With Toy Story 5, Pixar once again delivers a sequel that audiences didn’t know they needed." kata Brian Eggert, kritikus dari Deep Focus Review.

Meskipun narasinya terasa tidak beraturan di awal, Eggert menilai perkembangan cerita tersebut pada akhirnya terasa sepadan.

"Toy Story 5 can feel structurally scattershot at first. Upon reflection, the initially amorphous narrative trajectory feels earned." tambah Brian Eggert, kritikus dari Deep Focus Review.

Hoai-Tran Bui memberikan pandangan bahwa kehadiran film ini tetap patut diapresiasi karena menghargai kecerdasan penontonnya.

"While Toy Story 5 doesn’t quite justify its existence, it is nice to see Pixar continue to rep the family movie that doesn’t talk down to its audience." kata Hoai-Tran Bui, kritikus dari Inverse.

Matt Goldberg memuji keputusan berani dari sang sutradara yang memilih untuk tidak menggunakan formula lama.

"The smartest thing director Andrew Stanton and Pixar do here is throw out the old playbook…the series takes on a different complexion, especially since [Jessie’s] primary mission isn’t to get back to Bonnie." kata Matt Goldberg, kritikus dari Decoding Everything.

Robert Daniels menilai film ini berhasil menangkap kecemasan antargenerasi mengenai hilangnya ruang imajinasi anak-anak akibat gawai digital.

"Few films have captured the anxiety of a wary older generation looking at a seemingly lost youngest generation with greater perceptiveness than Toy Story 5." kata Robert Daniels, kritikus dari RogerEbert.com.

Film Toy Story 5 dijadwalkan mulai tayang secara global pada akhir pekan ini di berbagai jaringan bioskop.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: Disney Pixar Toy Story 5
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author