Pixar Rilis Toy Story 5 Soroti Dampak Waktu Layar Anak
Film animasi terbaru Pixar berjudul Toy Story 5 resmi dirilis pada Jumat, 19 Juni 2026, dengan mengangkat konflik nyata antara mainan klasik melawan dominasi gawai di kehidupan anak-anak.
Kisah ini berfokus pada karakter Bonnie yang mulai mengabaikan mainan lamanya demi tablet baru bernama Lilypad, sebuah dinamika yang merefleksikan kecemasan para orang tua di era digital.
Para pakar perkembangan anak menilai film ini tidak menyudutkan teknologi, melainkan mendorong keterlibatan aktif orang tua dalam kehidupan digital anak demi menjaga keseimbangan.
Data dari perusahaan keamanan online Aura menunjukkan bahwa durasi penggunaan gawai pada anak usia 7 hingga 12 tahun melonjak hingga 30 persen atau sekitar empat jam lebih banyak per minggu selama liburan musim panas.
Survei Aura terhadap hampir 30.000 perangkat mengungkapkan bahwa 75 persen anak usia 7 hingga 11 tahun lebih memilih menonton video dibandingkan bermain dengan mainan fisik.
Dampak negatif dari tingginya waktu layar ini berkolerasi dengan penurunan skor Indeks Kesejahteraan Digital Aura pada satu dari tiga anak, yang memengaruhi pola tidur, suasana hati, isolasi sosial, dan regulasi emosi.
Meski demikian, laporan tersebut mencatat lebih dari separuh anak yang disurvei menyadari dampak buruk gawai, dengan 36 persen di antaranya tetap lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman dan 24 persen ingin pergi ke luar rumah.
Guru sekolah umum sekaligus advokat kesehatan mental anak di Park Ridge, New Jersey, Josephine Hunt, memberikan pandangannya mengenai pemodelan perilaku orang tua di rumah.
"We may be on a device answering emails or doing work, working on proposals or projects, but our children are seeing us on the screen and not really understanding that," kata Josephine Hunt.
Ia menambahkan bahwa komunikasi sederhana yang sesuai usia mengenai penggunaan perangkat sangat penting untuk membantu anak memahami batasan antara kebutuhan rekreasi dan pekerjaan.
"The American Academy of Child and Adolescent Psychiatry estimated in 2025 that on average, children ages 8 to 18 in the United States spend 7.5 hours a day watching or using screens," ujar Josephine Hunt.
Pendekatan pola asuh yang seimbang juga diamini oleh spesialis perkembangan anak, Dr. Siggie Cohen, yang menekankan pentingnya rasa ingin tahu orang tua terhadap minat anak tanpa bersikap mengekang.
"First and foremost, stay connected to your children, even when they’re on the devices," kata Dr. Siggie Cohen.
Lebih lanjut, ia menyarankan orang tua untuk tetap hadir memahami dunia digital anak secara utuh.
"Know their world, understand it — not just because you’re watching like a watchdog, but because you really are present," ujar Dr. Siggie Cohen.
Sementara itu, psikolog dari Aura, Lauren Lee, menyoroti peningkatan aktivitas digital yang signifikan pada anak-anak bahkan hingga larut malam.
"For kids, 7 to 12, they are using and spending more time on their screens, about 30% more, which is equivalent to about four more hours per week compared to school time," kata Lauren Lee.
Pola konsumsi media digital ini bergeser dari video YouTube dan Roblox pada anak-anak menjadi penggunaan media sosial yang intensif pada usia remaja.
"We see nighttime messaging rates more than doubling across all age groups compared to the fall," ujar Lauren Lee.
Pediatri dari University of California, San Francisco, Dr. Jason Nagata, yang meneliti perilaku online anak, menyatakan hilangnya rutinitas sekolah membuat gawai menjadi pelarian utama saat bosan.
"Summer is a particularly vulnerable period for higher screen use," kata Dr. Jason Nagata.
Ia mengingatkan bahwa waktu yang dihabiskan di depan layar kerap menggeser aktivitas fisik penting dan jam tidur anak.
"Time that is generally spent on screens is often displacing sleep, physical activity or outdoor time," ujar Dr. Jason Nagata.
Guna mengatasi kejenuhan tanpa gawai, ia menyarankan pemberian aktivitas alternatif terstruktur seperti berkemah atau berenang yang memberikan batasan fisik terhadap perangkat.
"Many children and teens themselves report that they actually don't want to be glued to their phones over the summer," kata Dr. Jason Nagata.
Namun, tanpa adanya opsi kegiatan yang menyenangkan dari orang tua, anak-anak akan kesulitan lepas dari jeratan notifikasi aplikasi.
"If you're just saying, 'Oh, you have to limit your screen use to 1 or 2 hours a day without providing fun alternatives, it can be really hard if the kid is still stuck at home and kind of bored," ujar Dr. Jason Nagata.