PLN Kesulitan Pasokan Batu Bara Kalori Sedang Akibat Spesifikasi Tambang
Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia menilai kendala pemenuhan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap milik PT PLN (Persero) dipicu oleh spesifikasi produksi para penambang, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Senin (22/6/2026). Ketua Perhapi Sudirman Widhy Hartono menjelaskan bahwa mayoritas perusahaan tambang di dalam negeri hanya menghasilkan batu bara jenis kalori rendah yang tidak sesuai dengan kebutuhan spesifikasi pembangkit listrik negara. “Permasalahan utama adalah bahwa tidak semua perusahaan tambang batu bara di Indonesia memproduksi atau memiliki deposit dengan spesifikasi yang diperlukan oleh PLN yaitu batu bara kalori sedang atau medium,” ungkap Sudirman saat dihubungi, Senin (22/6/2028).
Keterbatasan tersebut terjadi lantaran wilayah konsesi tambang atau izin usaha pertambangan milik para produsen memang hanya memiliki deposit batu bara dengan kategori berkalori rendah.
“Artinya, untuk perusahaan-perusahaan tambang tersebut, mereka tidak bisa menyuplai batu bara hasil produksinya ke PLN melainkan harus dijual ke pembeli lain yang kebutuhan batu baranya sesuai dengan spesifikasi batu bara yang diproduksi tambang-tangamb tersebut," terangnya. Di sisi lain, perusahaan tambang yang memproduksi batu bara kalori sedang umumnya telah memenuhi kewajiban wajib pasok domestik atau domestic market obligation sebesar 25 persen hingga 30 persen.
“Mereka rata-rata sudah menyuplai 25% hingga 30% dari total produksi mereka ke PLN sesuai dengan penugasan pemerintah,” katanya. Kendati demikian, para produsen enggan menambah volume pasokan di luar kewajiban DMO karena harga patokan pemerintah senilai US$70 per ton dianggap terlalu rendah dan tidak mampu menutup biaya operasional tambang.
"Belum lagi kenaikan biaya operasional akibat meningkatnya harga bahan bakar minyak, kenaikan harga suku cadang, dan komponen lainnya," tambah Sudirman. Faktor lain yang memberatkan operasional penambang adalah kondisi nisbah kupas atau stripping ratio yang saat ini sudah mencapai kisaran 10 persen hingga 12 persen. "Mereka tentunya memilih untuk menjual batu bara produksinya ke pembeli lain, baik untuk kebutuhan domestik nonpembangkit maupun pasar ekspor, dengan harga pasar yang dapat memberikan margin keuntungan," tuturnya.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral membenarkan adanya hambatan dalam pemenuhan pasokan batu bara dengan kalori 5.200 kkal/kg GAR tersebut.
"Untuk sampai dengan Juni tadi kita sudah rapat itu ada kendala memang sedikit terhadap batu bara yang medium kalori yang 5.200. Kita kan tahu bahwa sekarang kan kalori batu bara kita ini kan makin hari kan makin rendah. Ini yang kita lagi cari solusinya," kata Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Meski terdapat kendala pasokan, Kementerian ESDM memberikan jaminan bahwa ketersediaan listrik nasional berada dalam kondisi aman dan tidak akan menghadapi pemadaman. "Insyaallah enggak [pemadaman], ya" ujar Bahlil.
Kementerian ESDM mencatat kebutuhan batu bara untuk PLN pada tahun 2026 diproyeksikan mencapai 154 juta ton, di mana kontrak pasokan sebesar 134 juta ton telah berhasil diamankan.
"Jadi tinggal kurang lebih sekitar 18 juta sampai 20 juta ton yang belum. Jadi secara overall tidak ada masalah," katanya.