Premier League Pertimbangkan Aturan Jeda Minum Mendadak akibat Cuaca Panas

Share

Operator Premier League berpeluang menerapkan perubahan aturan mendadak pada pertandingan pekan terakhir musim 2025/2026. Langkah ini diambil setelah cuaca panas ekstrem melanda wilayah Inggris menjelang laga penutup.

Suhu di sejumlah wilayah Inggris dilaporkan menyentuh angka 30 derajat Celsius dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran besar terkait keselamatan serta kebugaran para pemain yang bertanding di lapangan.

Seperti dikutip dari Bola, aturan mengenai jeda minum wajib ini dapat diberlakukan apabila suhu sebelum sepak mula mencapai atau melewati 30 derajat Celsius. Seluruh pertandingan pekan terakhir dijadwalkan berlangsung serentak pada Minggu pukul 16.00 waktu setempat.

Laga pemungkas ini berjalan di tengah tensi tinggi karena persaingan memperebutkan tiket kompetisi Eropa dan satu slot degradasi masih belum dipastikan. Regulasi jeda minum sendiri bukan hal baru di Premier League karena sempat diterapkan saat pandemi COVID-19 pada musim 2019/2020 dan awal musim 2022/2023.

Di sisi lain, atmosfer pekan terakhir dipastikan akan dinikmati oleh Arsenal yang sudah mengunci gelar juara. Klub asal London Utara tersebut dijadwalkan bakal mengangkat trofi setelah menyelesaikan laga tandang melawan Crystal Palace di Selhurst Park.

Manajer Arsenal, Mikel Arteta, memastikan bahwa timnya akan tetap menjaga standar permainan yang tinggi meskipun status juara sudah berada di tangan.

"Kami punya 48 jam untuk menikmati keberhasilan memenangi liga," kata Arteta.

"Sekarang, besok, dan Sabtu, kami akan mempersiapkan diri sebaik mungkin karena kami harus kembali menjaga kebiasaan dan standar yang biasa kami lakukan agar berada dalam kondisi terbaik untuk bersaing."

"Pada Minggu, kami akan punya sedikit waktu lagi untuk merayakan, mengangkat trofi dengan cara yang layak, dan terhubung dengan orang-orang yang selalu bersama kami. Setelah itu, kami punya enam hari untuk menulis sejarah baru di klub sepak bola ini."

Pertandingan penutup musim ini juga menjadi momen emosional bagi Pep Guardiola yang akan menjalani laga terakhirnya sebagai manajer Manchester City. Walau gagal mempertahankan gelar juara musim ini, Guardiola berharap timnya tetap tampil meyakinkan.

Pelatih asal Spanyol tersebut sebelumnya sempat berseloroh bahwa atmosfer timnya menjadi lebih baik saat cuaca panas tiba.

"Matahari," ujar Guardiola.

"Saya tidak bercanda. Matahari. Di Manchester tidak pernah ada matahari. Kalau matahari muncul pada November, kami mungkin sudah jadi juara pada Januari. Suasana hati jadi lebih baik."

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author