Presiden Iran Ajak AS Akhiri Perang Timur Tengah
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan penghentian konflik militer dengan Amerika Serikat pada Sabtu (22/8/2026), dengan menegaskan bahwa posisi Teheran kini lebih kuat dalam ketegangan yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kebuntuan perundingan diplomasi, blokade balasan angkatan laut oleh Amerika Serikat, serta penutupan sebagian Selat Hormuz oleh pihak Iran.
Pezeshkian menilai dunia internasional telah melihat dampak dari pertempuran yang terjadi selama ini.
"Lebih baik kita mengakhiri perang ini sekarang karena kita berada dalam posisi yang kuat dan bermartabat," kata Pezeshkian dalam pertemuan dengan para dokter di Iran, dilansir AFP.
Ia mengkritik tindakan militer Amerika Serikat yang dinilainya melanggar hukum internasional.
"Seluruh dunia mengakui kemenangan kita dan menekankan bahwa Amerika telah menyerang sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur kita dengan melanggar semua peraturan dan dibenci di seluruh dunia," imbuhnya.
Kementerian Luar Negeri Iran juga menuduh Washington melakukan terorisme ekonomi setelah muncul rencana peningkatan sanksi baru terhadap Teheran.
"Para pelaku dan penghasut sanksi ini pantas diadili dan dihukum karena melakukan kejahatan keji tersebut," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media pemerintah Iran.
Dari pihak Amerika Serikat, Menteri Keuangan Scott Bessent menyerukan isolasi ekonomi secara global untuk melumpuhkan pemerintah Iran.
"Ini akan menjadi isolasi ekonomi terkoordinasi paling besar dalam sejarah dunia. Dan kami mendatangi mereka dengan pesan: apakah Anda berada di pihak kami atau melawan kami?" kata Bessent dalam pesannya kepada sekutu-sekutu AS pada Jumat (21/8/2026).
Bessent juga menyinggung ketergantungan energi China dari kawasan Teluk guna mendorong dukungan penuh terhadap blokade ekonomi tersebut.
"Kami meyakini semua pihak ingin Selat (Hormuz) tersebut dibuka kembali, dan harga energi kembali turun. Perlu diingat bahwa China memperoleh 50 persen pasokan energinya dari kawasan Teluk. Jadi, akan sangat menguntungkan bagi mereka jika turut mendukung langkah ini," cetus Bessent.
Langkah AS ditujukan untuk membatasi ruang gerak serta kekuatan militer Teheran beserta jejaring dukungannya.
"Jadi, inilah saatnya bagi sekutu-sekutu kami dan seluruh dunia untuk mengambil keputusan. Kita akan melumpuhkan perekonomian rezim pembunuh ini, yang akan membatasi kemampuan mereka untuk memproyeksikan kekuatan melalui proksi-proksi mereka," tegas Bessent dalam pernyataannya.
Sementara itu, Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigadir Jenderal Hossein Mohebi memaparkan bahwa Iran terus meningkatkan jangkauan serta daya rusak persenjataannya.
"Kami terus mengalami kemajuan dari hari ke hari dalam seluruh bidang persenjataan. Senjata kami diproduksi dengan tingkat presisi, daya rusak dan teknologi yang semakin tinggi," ujarnya dalam wawancara dengan Mehr News Agency pada Kamis (20/8/2026).
Mohebi menegaskan peningkatan teknologi militer tersebut bakal terlihat secara nyata apabila eskalasi militer kembali melonjak.
"Jika perang kembali dimulai, tentu persenjataan kami akan berbeda dari sebelumnya. Perbedaan itu dapat terlihat pada generasi hulu ledak, ketepatan serangan, jangkauan rudal atau bidang lainnya," katanya.
Selain membahas persenjataan Iran, Mohebi mengomentari daya tahan militer Ansarullah di Yaman dalam menghadapi tekanan Arab Saudi.
"Sudah lebih dari dua tahun rezim Israel berperang di Gaza dan sampai sekarang belum mampu memberikan kerusakan serius terhadap Hamas. Lalu bagaimana mungkin Arab Saudi, yang kemampuan militernya lebih rendah daripada rezim Zionis, dapat menghadapi Ansarullah dan para pejuang Yaman? Itu tidak mungkin," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa intensitas serangan balasan dari Yaman akan sebanding dengan tekanan yang diterima.
"Dalam hal ini, Arab Saudi tentu tidak akan mampu mengendalikan Yaman dan Ansarullah serta terbebas dari serangan mereka. Dalam beberapa hari terakhir, kita melihat bahwa semakin besar serangan yang dilakukan Arab Saudi, semakin besar pula serangan balasan yang diterimanya," katanya.
Garda Revolusi Iran meyakini kekuatan perlawanan di Yaman akan terus mengalami peningkatan kapasitas militer secara berkelanjutan.
"Kemampuan yang telah diperoleh Ansarullah Yaman selama bertahun-tahun terus meningkat. Perlawanan Yaman melanjutkan jalur kemajuannya dengan kekuatan," ujar Mohebi.