Presiden Iran Akui Warga Hadapi Banyak Masalah Saat AS Berlakukan Sanksi Baru
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui bahwa warga negaranya menghadapi banyak masalah menyusul gelombang sanksi baru yang diluncurkan Amerika Serikat untuk mengisolasi perekonomian Iran, dilansir dari Detikcom.
Pezeshkian menyatakan bahwa Iran kini berada dalam perang skala penuh di bidang ekonomi, militer, dan keamanan akibat kebijakan Presiden AS Donald Trump. Ia mengungkapkan upaya keras pemerintah untuk mengatasi inflasi, pengangguran, dan menjamin kehidupan bermartabat bagi rakyatnya.
"Saya memahami bahwa kita memiliki banyak masalah di masyarakat saat ini. Kami berupaya mencegah hal-hal tersebut semaksimal mungkin," ujar Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan di televisi pemerintah.
"Dia mengatakan sedang menjatuhkan sanksi yang paling menghancurkan dan mengerikan terhadap Iran," kata Pezeshkian.
Pemerintah Iran telah menghadapi gelombang protes massal dalam beberapa tahun terakhir yang dipicu oleh kesulitan ekonomi, termasuk inflasi dan penurunan daya beli akibat fluktuasi nilai tukar.
Protes yang awalnya dipicu oleh kenaikan biaya hidup pada akhir Desember tahun lalu berkembang menjadi demonstrasi besar yang menentang pihak penguasa.
Pihak berwenang melaporkan lebih dari 3.000 kematian selama kerusuhan tersebut dan menuduh Amerika Serikat serta Israel sebagai dalang kekerasan.
Namun, sejumlah LSM internasional menyatakan bahwa aparat keamanan melakukan tindakan keras yang menyebabkan ribuan orang tewas tanpa pandang bulu.