Produksi Smelter Nikel di IWIP Turun 15 Persen

Share

Penurunan produksi sebesar 10 hingga 15 persen melanda fasilitas smelter pirometalurgi berteknologi rotary kiln electric furnace yang menghasilkan nickel pig iron di Indonesia Wedabay Industrial Park akibat kendala pasokan listrik dan kelangkaan bijih nikel.

Kondisi penurunan operasional pada fasilitas pengolahan feronikel kadar tinggi di kawasan industri Maluku Utara tersebut dilansir dari Bloombergtechnoz berdasarkan laporan riset pasar dari Shanghai Metals Market. Penghentian sementara beberapa lini produksi untuk pemeliharaan rutin terpaksa dilakukan manajemen sebagai dampak langsung dari melonjaknya biaya operasional di lapangan sejak Maret 2026.

Pihak lembaga riset komoditas global mencatat bahwa pemotongan volume produksi di area Weda Bay akan berlangsung setidaknya selama beberapa bulan ke depan.

"Fasilitas di Weda Bay yang berada di kawasan industri IWIP mengumumkan produksi NPI berkualitas tinggi akan dikurangi sebesar 10%—15% dalam beberapa bulan mendatang," tulis catatan resmi SMM.

Kebijakan pengurangan kapasitas ini diperparah oleh instruksi internal manajemen kawasan yang meminta produsen memprioritaskan pasokan daya bagi smelter aluminium.

"Dengan beberapa jalur produksi telah menjalani masa penghentian operasional untuk pemeliharaan sejak Maret akibat kelangkaan bijih dan kenaikan biaya operasional," tulis SMM melanjutkan.

Estimasi dampak pasar global dari pemeliharaan berkala ini diproyeksikan memicu penyusutan volume hingga 6.000 ton kandungan nikel per bulan dari rata-rata kapasitas normal.

"Secara tersendiri, volume ini kemungkinan tidak cukup untuk mengubah pasar nikel global keluar dari kondisi surplus, tetapi dapat memberikan dukungan langsung terhadap impor NPI ke China, sentimen pembelian pabrik, dan premi untuk NPI kadar tinggi," kata Bruce Chew, Analis Nikel dan Stainless Steel SMM.

Di sisi lain, kendala operasional akibat tingginya harga komoditas penunjang juga memaksa Zhejiang Huayou Cobalt Co. menghentikan sementara fasilitas hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach melalui anak usahanya, PT Huafei Nickel Cobalt, sejak awal Mei 2026.

Defisit pasokan bahan baku secara masif mengancam kelangsungan jangka panjang seluruh klaster industri jika pengajuan kuota penambangan lokal tidak segera disetujui pemerintah.

"Jika kami tidak mendapatkan perpanjangan Anda tahu seperti yang saya sampaikan dalam presentasi, konsumsi bijih di area IWIP adalah 120 juta ton. Tahun lalu kami memasok 42 million. Jika kami tidak mendapatkan perpanjangan, maka Anda akan mengalami defisit 30 juta ton dari Weda Bay Nickel," kata Jerome Baudelet, CEO Eramet Indonesia.

Manajemen Eramet Indonesia menambahkan bahwa pencarian alternatif bahan baku ke luar wilayah seperti Pulau Sulawesi atau impor dari Filipina akan memicu lonjakan biaya logistik yang signifikan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author