Produsen Energi Teluk Bersiap Buka Kembali Selat Hormuz
Para eksekutif energi di Timur Tengah mulai merencanakan latihan logistik besar untuk membuka kembali jalur air Selat Hormuz setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan perdamaian sementara pada Rabu, 17 Juni 2026. Langkah pemulihan ini dilakukan setelah jalur krusial bagi pasokan minyak dunia tersebut efektif tersandera konflik, yang sempat memangkas ekspor minyak Teluk hingga 15 juta barel per hari, dilansir dari Bloombergtechnoz. Ketua dan Kepala Eksekutif TotalEnergies SE, Patrick Pouyanne, menyampaikan pandangannya mengenai proses normalisasi jalur distribusi minyak dunia ini kepada parlemen Prancis pada hari Rabu.
"Kita seharusnya dapat memulihkan operasi normal di seluruh pasar ini dalam enam bulan ke depan, dengan syarat kita benar-benar kembali ke periode ketika selat tersebut terbuka," kata Patrick Pouyanne, ketua dan kepala eksekutif TotalEnergies SE.
Pouyanne menambahkan bahwa situasi riil di kawasan tersebut akan terus dipantau secara ketat oleh seluruh pelaku industri. "Semua orang akan mengamati apa yang sebenarnya terjadi di lapangan." kata Patrick Pouyanne, ketua dan kepala eksekutif TotalEnergies SE.
Pemulihan ini diperkirakan membutuhkan waktu bertahap karena serangan Iran telah menyebabkan kerusakan infrastruktur minyak senilai sekitar US$42 miliar menurut data Rystad Energy. Kepala analisis hulu di konsultan Wood Mackenzie, Fraser McKay, memproyeksikan bahwa sebagian besar kapasitas produksi dapat kembali beroperasi dalam beberapa bulan ke depan.
"Memulihkan pasokan dalam skala sebesar ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya," kata Fraser McKay, kepala analisis hulu di konsultan Wood Mackenzie. McKay memperkirakan sekitar 70 persen produksi sebelum perang dapat kembali dalam tiga bulan, sementara 90 persen dalam enam bulan. "Akan ada kejutan menyenangkan bagi para produsen tetapi juga kemunduran." kata Fraser McKay, kepala analisis hulu di konsultan Wood Mackenzie.
Selain masalah infrastruktur, kecepatan pemulihan aliran minyak juga bergantung pada volume minimal pengapalan awal untuk menstabilkan pasar.
Kepala ekonom di perusahaan perdagangan komoditas Trafigura Group, Saad Rahim, menyatakan pentingnya mengembalikan volume perdagangan secepat mungkin. "Anda tidak perlu langsung kembali ke 100% aliran sebelum perang," kata Saad Rahim, kepala ekonom di perusahaan perdagangan komoditas Trafigura Group. Rahim menilai target awal yang harus dicapai adalah memulihkan setengah dari kapasitas normal.
"tetapi Anda perlu kembali setidaknya ke 50% dengan cukup cepat." kata Saad Rahim, kepala ekonom di perusahaan perdagangan komoditas Trafigura Group.
Di sisi lain, proses pengaktifan kembali lalu lintas kapal tanker masih menghadapi kendala kejelasan terkait pembersihan ranjau laut di sepanjang selat. Kepala Eksekutif D/S Norden A/S, Jan Rindbo, menekankan pentingnya membangun kepercayaan bagi para pemilik kapal tanker sebelum melintasi kawasan tersebut.
"Semua orang ingin mengeluarkan kapal-kapal itu, tetapi suasananya adalah Anda tidak perlu menjadi yang pertama," kata Jan Rindbo, kepala eksekutif D/S Norden A/S. Menurut Rindbo, pemulihan lalu lintas laut secara bertahap akan menjadi faktor penentu utama kepercayaan pasar.
"Jelas dengan dimulainya kembali lalu lintas, itu akan membangun kepercayaan." Namun, kepercayaan itu masih rapuh, tidak perlu banyak hal untuk membuatnya hilang lagi." kata Jan Rindbo, kepala eksekutif D/S Norden A/S. Ketidakpastian situasi selama berbulan-bulan di jalur laut tersebut juga dirasakan langsung oleh para awak kapal tanker yang tertahan di Teluk Persia. Abhjit Chopra, seorang kapten kapal tanker dengan 22 awak yang telah terdampar selama 110 hari, menceritakan kondisi ketegangan yang dialami seluruh kru kapal.
"Pasti ada rasa tegang dan ketidakpastian selama lebih dari 100 hari ini di mana kita tidak memiliki kejelasan tentang apa yang akan terjadi," kata Abhjit Chopra, Kapten Kapal Tanker.
Chopra menjelaskan bahwa saat ini kapal-kapal masih bersikap waspada dan belum melakukan pergerakan besar. "Kapal-kapal tersebut berhati-hati. Kami semua menunggu instruksi dari kantor-kantor di darat untuk melaksanakan langkah selanjutnya." kata Abhjit Chopra, Kapten Kapal Tanker. Pihak pembeli di Asia kini bersiap menerima kembali pasokan minyak mentah Timur Tengah untuk membangun kembali cadangan energi strategis mereka.
Peneliti pasar minyak dan pendiri Commodity Context, Rory Johnston, menilai sistem pasar global cukup tangguh dalam menghadapi tekanan pasokan tersebut.
"Dengan kemampuan China untuk mengubah permintaan begitu besar dan begitu cepat, sistem ini cukup aman terhadap guncangan pasokan," kata Rory Johnston, peneliti pasar minyak dan pendiri Commodity Context. Johnston menyimpulkan bahwa fase kritis dari gangguan pasokan ini telah berhasil dilewati oleh pasar internasional.
"Ini jelas merupakan ujian guncangan pasokan terberat, dan pasar sejauh ini tampaknya telah melewatinya." kata Rory Johnston, peneliti pasar minyak dan pendiri Commodity Context. Kembalinya pasokan minyak dari Selat Hormuz diproyeksikan akan mendorong harga minyak mentah, yang berada di posisi US$79 per barel pada Kamis, mengalami penurunan lebih lanjut.
Saad Rahim dari Trafigura menambahkan bahwa seluruh pelaku sektor hilir dan hulu akan berupaya maksimal memulihkan tangki penyimpanan yang sempat menipis. "Semua orang akan melihat sekeliling dan mengatakan kita perlu membangun kembali persediaan," kata Saad Rahim, kepala ekonom di perusahaan perdagangan komoditas Trafigura Group. Proses pengisian ulang cadangan minyak ini diperkirakan tetap menjaga tingginya permintaan kapal tanker hingga akhir tahun 2026.
"produsen dan penyuling minyak mentah akan bekerja sekeras mungkin." kata Saad Rahim, kepala ekonom di perusahaan perdagangan komoditas Trafigura Group.