UBS Proyeksikan Indeks FTSE 100 Tembus 11.000 Akhir Tahun Ini
Bank investasi UBS memproyeksikan indeks saham blue-chip Inggris FTSE 100 bakal menguat hingga menyentuh level 11.000 pada akhir tahun 2026 didorong oleh pertumbuhan laba perusahaan komoditas yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Penguatan indeks pasar saham London tersebut diprediksi terus berlanjut hingga mencapai level 11.300 pada Juni 2027 atau naik sekitar 9 persen dari posisi penutupan sebelumnya di level 10.340.
Ahli strategi ekuitas UBS Matthew Gilman menjelaskan bahwa pasar Inggris terus mendapat keuntungan dari valuasi yang masuk akal dan peningkatan pertumbuhan laba, di mana saat ini FTSE diperdagangkan pada 12,4 kali kelipatan laba ke depan.
Kenaikan harga minyak dunia mendorong revisi estimasi pertumbuhan laba rata-rata perusahaan Inggris tahun ini menjadi 11 persen, melonjak signifikan dibandingkan prediksi awal sebesar 5 persen pada awal 2026.
Meskipun latar belakang pasar domestik cukup positif, lembaga keuangan asal Swiss tersebut memilih untuk tetap mempertahankan peringkat netral terhadap ekuitas pasar saham Inggris Raya.
Pihak bank menilai peluang investasi di wilayah lain jauh lebih menarik, terutama pada pasar yang bersifat siklikal atau memiliki paparan pertumbuhan struktural yang lebih tinggi seperti sektor industri dan teknologi global.
Lembaga analis riset ini melihat kepemimpinan pasar saham Inggris dalam 12 bulan terakhir bergerak sangat sempit, di mana indeks FTSE 100 naik 17 persen yang berbanding terbalik dengan pertumbuhan median saham biasa di angka 8,8 persen.
Dalam nota riset yang dikirimkan kepada para klien UBS Global Wealth Management, pihak bank memaparkan sejumlah analisis mendalam terkait skenario pergerakan pasar saham ke depan.
"This should continue to support UK equities, but we see a brighter outlook for other regions." kata UBS.
Pihak bank menambahkan bahwa jika gangguan pasokan energi global berlangsung singkat, pasar lain yang sempat melemah dalam beberapa bulan terakhir berpotensi meraup keuntungan yang jauh lebih besar.
"In our base case where energy disruptions are relatively short-lived, we see greater potential for gains in more cyclical markets that have experienced the most weakness in recent months, with the UK's high exposure to the energy sector also likely to weigh on it." kata UBS.
Struktur indeks saham Inggris dinilai kurang memiliki bobot yang besar pada sektor industri manufaktur modern sehingga membatasi keuntungan dari momentum adopsi teknologi kecerdasan buatan, elektrifikasi, dan belanja pertahanan.
"The UK market also has a relatively low weight in the industrial sector and therefore may not benefit as much from the manufacturing pick-up we’re anticipating, which is in part supported by some investment intensive secular themes, such as AI, electrification and defence spending." kata UBS.
Selain skenario dasar tersebut, analis UBS juga memetakan potensi skenario optimistis dan pesimistis yang didorong oleh pergerakan harga komoditas global serta pergerakan imbal hasil obligasi.
Pada skenario terbaik, indeks FTSE 100 diprediksi dapat melonjak sebesar 19 persen hingga menyentuh level 12.300 pada Juni 2027 jika pertumbuhan ekonomi global menguat dan nilai mata uang pound sterling melemah.
Pound sterling yang melemah akan menguntungkan emiten karena sekitar 75 hingga 80 persen pendapatan perusahaan dalam indeks FTSE 100 dihasilkan di luar wilayah Inggris Raya.
Sebaliknya pada skenario terburuk, indeks diproyeksikan anjlok hingga 25 persen menuju level 7.700 apabila perang dagang kembali pecah, harga komoditas jatuh, dan imbal hasil obligasi melonjak tajam.
Analis UBS Ian Douglas-Pennant secara khusus menyoroti salah satu emiten komoditas terbesar, Shell Plc, yang memiliki bisnis energi terdiversifikasi dari minyak, gas, LNG, hingga energi terbarukan.
Perusahaan migas dengan kapitalisasi pasar mencapai 174,5 miliar pound sterling tersebut saat ini tercatat menyalurkan dividen tahunan sebesar 6,3 miliar pound sterling kepada para pemegang sahamnya.
| Scenario | FTSE 100 target | Key drivers |
|---|---|---|
| Base case | 11,000 (Dec 2026) | Short-lived energy disruptions, 11% earnings growth |
| Upside | 12,300 (Jun 2027) | Stronger global growth, higher commodities, weaker sterling |
| Downside | 7,700 (-25%) | Trade wars, lower commodity prices, higher bond yields |
Sektor komoditas sendiri berkontribusi terhadap sekitar 25 persen dari total keseluruhan laba bersih yang dihasilkan oleh emiten di dalam indeks FTSE 100.