PT Prodia Diagnostic Line Tbk Siap IPO Awal Juli
PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) berencana melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal Juli 2026 mendatang. Dana segar sebesar Rp62,75 miliar berpotensi dihimpun dari aksi korporasi tersebut.
Jumlah saham baru yang ditawarkan perseroan sebanyak-banyaknya 522,9 juta lembar saham, setara dengan 30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Kamis (18/6/2026). Kisaran harga penawaran ditetapkan sebesar Rp100 hingga Rp120 per saham.
Selain penawaran untuk umum, program Employee Stock Allocation (ESA) juga disiapkan oleh pihak manajemen. Alokasi untuk program pegawai ini disiapkan sebanyak-banyaknya 36,6 juta saham atau setara 7 persen dari total saham IPO.
Manajemen mengingatkan para calon investor mengenai pergerakan harga saham pasca-IPO yang berpotensi fluktuatif di pasar sekunder akibat dinamika pasar modal. Sejumlah risiko usaha turut dipaparkan yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan di masa depan, termasuk ketergantungan pada anggaran sektor kesehatan milik pemerintah.
"Pendapatan usaha perseroan saat ini sebagian besar berasal dari belanja pemerintah pada fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah atau yang bergantung pada pembiayaan program pemerintah. Sehingga APBN pada sektor kesehatan sangat berpengaruh pada pendapatan usaha Perseroan," tulis manajemen PRDL dalam prospektus.
Perseroan menjelaskan bahwa kelangsungan arus kas dan penjualan dapat terpengaruh oleh sistem e-katalog, perubahan kebijakan pengadaan barang, hingga keterlambatan pembayaran. Risiko operasional lain meliputi gangguan rantai pasok global dan fluktuasi geopolitik yang bisa menghambat impor bahan baku produk In Vitro Diagnostic (IVD).
Tantangan lain yang dihadapi adalah berakhirnya kondisi luar biasa seperti pandemi yang berisiko menekan volume penjualan produk diagnostik. Kompetisi ketat dengan produsen global dan distributor produk impor bermerek kuat juga menjadi perhatian serius bagi perseroan.
"Apabila perseroan tidak mampu mempertahankan kualitas produk, layanan purna jual, serta daya saing harga, maka kinerja usaha dapat berdampak secara material," lanjut manajemen perseroan.
Faktor lain seperti ketiadaan perjanjian pembelian jangka panjang dengan sebagian pelanggan, perkembangan teknologi yang cepat, serta fluktuasi nilai tukar rupiah turut membayangi bisnis perseroan ke depan.