Qantas Airways Modifikasi Airbus A350 untuk Atasi Jet Lag Penerbangan Nonstop
Qantas Airways Ltd. menyiapkan berbagai strategi perjalanan demi meminimalkan kelelahan penumpang pada penerbangan jarak jauh. Seperti dikutip dari Bloombergtechnoz, maskapai ini memodifikasi armada Airbus SE A350-1000 dengan memperbanyak kursi kelas premium daripada kelas ekonomi konvensional.
Langkah tersebut diambil demi memberikan kenyamanan ekstra dalam perjalanan yang memakan waktu hampir 20 jam. Pada rute Sydney-London, Qantas menyediakan zona kesehatan khusus di dalam kabin pesawat.
Fasilitas tersebut berupa area yang setara dengan beberapa baris kursi penumpang. Melalui ruang ini, para pelaku perjalanan dapat berjalan-jalan, melakukan peregangan tubuh, atau berinteraksi dengan sesama penumpang.
Konsep kabin inovatif ini baru saja dipamerkan di Toulouse, Prancis selatan. Lokasi tersebut merupakan tempat perakitan selusin jet pesanan Qantas oleh pabrikan pesawat Airbus.
Armada baru ini disiapkan untuk melampaui batas penerbangan nonstop yang ada saat ini. Koneksi langsung yang menghubungkan kedua kota tersebut direncanakan mulai beroperasi pada tahun depan.
"Kami telah mempelajari dampak perjalanan jarak jauh pada tubuh, dampak jet lag pada tubuh," kata CEO Qantas Vanessa Hudson di Toulouse pada 17 Juni.
"Kami memiliki data yang telah kami integrasikan ke dalam layanan dan pengalaman kami yang membuat perbedaan."
Saat ini, rekor penerbangan langsung paling lama dipegang oleh Singapore Airlines dengan rute Singapura ke New York yang berdurasi sekitar 19 jam. Pesawat khusus milik Qantas dirancang mampu terbang tiga jam lebih lama dari rekor tersebut.
Kemampuan ini didukung oleh pemasangan tangki bahan bakar tambahan. Selain itu, konfigurasi kabin dirancang khusus dengan kapasitas penumpang yang lebih sedikit daripada model standar A350-1000.
Sistem pencahayaan interior pesawat akan diprogram secara khusus untuk mengatur siklus tidur dengan meniru momen matahari terbit serta terbenam. Hidangan makanan juga akan disajikan mengikuti zona waktu kota tujuan.
Penumpang bakal dipandu untuk melakukan rutinitas gerakan dan peregangan. Program kebugaran ini dirancang melalui konsultasi bersama para ilmuwan tidur dari Universitas Sydney.
Inovasi ini menjadi puncak dari Proyek Sunrise yang diinisiasi sejak tahun 2017. Kala itu, Qantas menantang produsen Airbus dan Boeing Co. untuk menciptakan jet yang sanggup menempuh jarak sangat jauh tanpa transit.
Posisi geografis Australia yang terpencil menjadikannya salah satu pasar penerbangan paling menantang untuk terhubung langsung dengan Eropa atau Amerika Serikat. Selama beberapa dekade, pelaku perjalanan terbiasa menempuh rute London menuju wilayah timur Australia dalam dua tahap penerbangan.
Layanan penerbangan Qantas ke London saat ini masih harus melakukan transit di Singapura. Rute penerbangan tersebut membutuhkan total waktu perjalanan sekitar 23 jam.
Efisiensi teknologi pesawat terbaru kini mengubah peta perjalanan udara. Airbus melakukan modifikasi pada model A350-1000 agar dapat menjelajah sejauh 17.000 kilometer atau 10.563 mil antara Sydney dan London, yang nantinya juga akan diterapkan untuk rute ke New York.
Persiapan rute jarak ultra jauh ini tidak hanya berfokus pada aspek rekayasa mesin. Qantas melibatkan ilmuwan, pengamat, dan sukarelawan dalam serangkaian penerbangan riset untuk memantau tingkat hidrasi, kualitas tidur, kewaspadaan, hingga waktu reaksi tubuh.
"Ini bukan sesuatu yang baru saja kami mulai," kata Hudson.
Data dari riset tersebut diimplementasikan dalam desain interior kabin. Area kesehatan ditempatkan di antara kabin ekonomi premium dan ekonomi dengan fasilitas palang penyangga, layar panduan olahraga, serta ruang gerak untuk delapan penumpang.
Layanan penerbangan tanpa transit ini membuat Qantas dapat menetapkan tarif sekitar 20% lebih tinggi. Pesawat ini memiliki kapasitas 238 kursi, jauh di bawah kapasitas normal A350-1000 konvensional.
Maskapai yang berpusat di Sydney ini telah memesan sebanyak 12 armada model jarak ultra jauh tersebut. Seluruh proses pengiriman unit dijadwalkan selesai pada tahun 2029.
Porsi kursi untuk kabin premium dialokasikan sebesar 40% dari total kapasitas. Jumlah tersebut mencakup enam suite kelas satu, 52 kursi kelas bisnis, serta 40 kursi untuk kelas ekonomi premium.