RS Mitra Keluarga Terapkan Kecerdasan Buatan untuk Layanan Medis

Share

Jaringan RS Mitra Keluarga mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif ke dalam sistem operasional dan administrasi medis rumah sakit, sebagaimana dilansir dari Detik iNET pada Kamis (6/8/2026). Langkah transformasi digital ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta mengefisiensikan waktu kerja tenaga medis.

Penggunaan AI di lingkungan rumah sakit sempat memicu kekhawatiran dari para tenaga kesehatan terkait potensi penggantian peran profesi mereka oleh teknologi. Chief Information Officer Mitra Keluarga, Yosep Sutrisno, membeberkan dinamika awal saat kecerdasan buatan tersebut pertama kali diperkenalkan kepada jajaran staf.

"Di awal, teman-teman yang implement AI selalu bayangannya ketakutan. Ketakutannya karena di internet atau di publik selalu bilang AI menggantikan manusia," ujar Yosep Sutrisno, Chief Information Officer Mitra Keluarga.

Pihak manajemen rumah sakit kemudian memberikan pemahaman secara bertahap bahwa adopsi AI tidak ditujukan untuk menyingkirkan peran dokter, perawat, ataupun staf medis lainnya di lapangan.

"Kita di Mitra Keluarga pakai AI bukan untuk menggantikan manusia, bukan untuk menggantikan dokter, bukan untuk menggantikan suster, atau tenaga kesehatan. Justru kita mau meningkatkan kualitas," kata Yosep Sutrisno, Chief Information Officer Mitra Keluarga.

Pemanfaatan AI difokuskan untuk menangani pekerjaan administratif yang menyita waktu, seperti merangkum riwayat diagnosis dan pengobatan pasien, sehingga dokter dapat lebih fokus berinteraksi langsung dengan pasien. Kendati AI menyajikan data dan analisis secara cepat, seluruh keputusan medis tetap sepenuhnya berada di tangan dokter.

"AI akan bantu dokter atau suster untuk summarize. Bisa berdasarkan diagnosis, bisa berdasarkan obat-obatan yang pernah diberikan. Dari situ nanti akan bantu dokter. Keputusan tetap di dokter," kata Yosep Sutrisno, Chief Information Officer Mitra Keluarga.

Integrasi AI memungkinkan sistem membaca basis pengetahuan internal rumah sakit secara menyeluruh guna memberikan ringkasan informasi medis yang akurat bagi para tenaga medis.

"Kadang-kadang kita hanya bisa mengingat A sampai Z, tapi AI bisa baca sistem yang kita punya. AI membantu memberikan summary dan insight kepada kita," ujar Yosep Sutrisno, Chief Information Officer Mitra Keluarga.

Dalam penerapannya, RS Mitra Keluarga memanfaatkan layanan Amazon Bedrock dari Amazon Web Services (AWS) untuk dua fungsi mendasar. Pertama, asisten AI bernama Nara digunakan untuk menyaring berkas pelamar dalam proses rekrutmen, yang berhasil menghemat lebih dari 2.300 jam kerja tim HR setiap tahun tanpa menghilangkan wewenang keputusan penerimaan kandidat pada tim HR. Kedua, perbaikan dan pengembangan perangkat lunak internal dibantu oleh asisten pemrograman Kiro, yang memangkas durasi pengembangan aplikasi fasilitas dari tiga bulan menjadi satu bulan, serta mempercepat perbaikan sistem rekam medis dari seminggu menjadi satu hingga dua hari saja.

Country Manager AWS Indonesia, Anthony Amni, menegaskan bahwa efisiensi teknis melalui pemanfaatan AI pada akhirnya berdampak langsung pada peningkatan kualitas perawat pasien.

"Layanan kesehatan hadir untuk memberikan perawatan terbaik bagi pasien. Setiap jam yang dihabiskan untuk menunggu sistem yang bermasalah adalah satu jam yang seharusnya bisa digunakan untuk merawat pasien," kata Anthony Amni, Country Manager AWS Indonesia.

Guna mengatasi resistensi perubahan pola pikir di internal rumah sakit, RS Mitra Keluarga merangkul dokter senior dan dokter muda yang melek teknologi sebagai penggerak perubahan di lingkungan kerja masing-masing.

"Kadang ada orang yang sangat sulit diberikan pengertian. Justru kalau mereka sudah paham, mereka bisa menjadi agent of change untuk menjelaskan ke teman-temannya bahwa AI bukan untuk menggantikan tugas mereka, tapi membantu pekerjaan mereka," kata Yosep Sutrisno, Chief Information Officer Mitra Keluarga.

RS Mitra Keluarga memastikan perluasan implementasi AI di masa mendatang akan tetap diposisikan sebagai alat bantu operasional dan pendukung keputusan teknis, sementara otoritas keputusan medis akhir sepenuhnya dipegang oleh dokter.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author