Rupiah Menguat Setelah Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat sebesar 0,16 persen ke posisi Rp17.710/US$ pada perdagangan Kamis (18/6/2026). Penguatan ini terjadi pascalangkah Bank Indonesia yang kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.
Kebijakan pengetatan moneter ini menjadi kenaikan ketiga kalinya dalam kurun waktu sekitar satu bulan. Melalui keputusan terbaru tersebut, total kenaikan suku bunga acuan sepanjang tahun ini telah mencapai 100 basis poin.
Prioritas utama Bank Indonesia saat ini diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari tekanan eksternal, alih-alih menyediakan ruang pelonggaran bagi pertumbuhan ekonomi. Langkah agresif ini sekaligus memberi sinyal kepada pasar bahwa bank sentral berkomitmen menahan depresiasi rupiah di tengah volatilitas global yang dipicu oleh sikap hawkish Federal Reserve.
"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global," tegas Gubernur BI Perry Warjiyo.
Di sisi lain, tekanan akibat sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat masih membayangi mayoritas mata uang di kawasan Asia. Walaupun The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada tingkat 3,5 hingga 3,75 persen, proyeksi dot plot mengindikasikan adanya potensi kenaikan Federal Funds Rate sebanyak satu atau dua kali lagi pada tahun ini.
Dampak sentimen tersebut memicu pelemahan pada sejumlah mata uang regional, dengan ringgit Malaysia mencatatkan penurunan paling tajam. Tren pelemahan ini juga diikuti oleh won Korea Selatan, baht Thailand, peso Filipina, dolar Taiwan, yuan China, dan dolar Hong Kong.
Kendati rupiah berhasil menguat pada hari ini, situasi tersebut dinilai belum sepenuhnya menandakan berakhirnya tekanan pasar. Pergerakan mata uang di negara-negara berkembang diperkirakan masih tetap sensitif terhadap perubahan sentimen global selama ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat tetap bertahan.