Rupiah Menguat Tajam ke Rp17.703 per Dolar AS Jelang Keputusan Suku Bunga

Share

Nilai tukar rupiah menutup sesi perdagangan dengan penguatan sebesar 0,94% ke level Rp17.703 per dolar AS. Catatan ini membuat mata uang Garuda berhasil mempertahankan posisi kedua terkuat di antara mata uang Asia, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.

Sinyal positif pergerakan rupiah dipicu oleh kombinasi meredanya tekanan eksternal serta koreksi harga minyak mentah dunia yang menyusut 4,67% ke level US$83,25 per barel. Selain itu, komitmen agresif Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebanyak 75 basis poin (bps) menegaskan prioritas bank sentral untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Langkah bank sentral turut diperkuat dengan mengerek imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga menyentuh 7,64% dalam lelang terakhir pada Jumat (12/6/2026).

Di sisi lain, pemerintah melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi menjadi Rp16.250 per liter. Kebijakan ini meredakan kekhawatiran pelaku pasar yang sebelumnya cemas terhadap potensi pengikisan ruang fiskal akibat penahanan harga di tengah lonjakan minyak dunia.

Pemerintah juga berencana menyesuaikan anggaran pada sejumlah program prioritas nasional, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Kebijakan komunikasi ini dibaca oleh pelaku pasar sebagai komitmen kuat dalam menjaga disiplin fiskal negara.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai, langkah-langkah strategis pemerintah ini berpotensi membawa rupiah melanjutkan tren penguatan menuju kisaran Rp17.500 per dolar AS pada pekan depan.

"Pasar mulai melihat bahwa otoritas ekonomi Indonesia bersedia mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memulihkan kepercayaan investor," kata Fakhrul.

Saat ini, fokus pasar tertuju pada rapat kebijakan suku bunga acuan BI Rate yang akan diputuskan pekan ini. Konsensus ekonom yang dihimpun Bloomberg memperkirakan bank sentral akan kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 bps ke level 5,75% demi menjaga stabilitas mata uang secara berkelanjutan.

Performa Mata Uang Kawasan Asia

Apresiasi nilai tukar rupiah berjalan seiring dengan pergerakan mata uang Asia yang kompak bergerak di zona hijau. Peso Filipina memimpin penguatan sebesar 1,44%, disusul oleh rupiah sebesar 0,94%, dan rupee India yang menguat 0,52%.

Lonjakan tajam peso Filipina didorong oleh tercapainya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk menghentikan konflik. Sentimen positif ini juga mendorong indeks saham Filipina melesat ke level tertinggi dalam lebih dari enam tahun terakhir.

Analis Barclays, Brian Tan, menyebutkan bahwa kesepakatan damai sementara tersebut memperkuat posisi kelompok yang mendukung pelonggaran kebijakan moneter menjelang rapat bank sentral kawasan pada 19 Juni mendatang, termasuk Bank Indonesia, Bank sentral Taiwan, dan Bangko Sentral ng Pilipinas.

Namun, Barclays memproeksikan Bank of Korea, Bank sentral Taiwan, dan Bank Negara Malaysia masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini, bahkan jika deeskalasi konflik di Timur Tengah berlangsung lebih signifikan.

Sementara itu, Reserve Bank of India dan Bank of Thailand diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga mereka hingga akhir tahun karena respons kebijakan kedua negara cenderung kurang sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar maupun guncangan inflasi akibat gangguan pasokan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author