Rusia Jual Cadangan Emas untuk Tutupi Defisit Anggaran
Pemerintah Rusia menjual cadangan emas sebesar 43.500 kilogram guna mengatasi pembengkakan defisit anggaran yang dipicu lonjakan pengeluaran pertahanan dan operasi militer pada Agustus 2026. Langkah ini diambil setelah perbankan domestik kehabisan cadangan likuiditas rubel untuk menyerap obligasi negara.
Defisit anggaran federal Rusia membengkak hingga 5,7 triliun rubel pada paruh pertama tahun 2026. Angka tersebut melampaui rencana awal anggaran dan diperkirakan berpotensi melebihi target resmi hingga lebih dari 1 triliun rubel pada akhir tahun.
Kekurangan likuiditas di sektor perbankan turut memperparah kondisi keuangan Moskow. Penarikan dana tunai dari sistem perbankan nasional dilaporkan telah menembus angka sekitar 2 triliun rubel sejak awal tahun.
Pencairan aset emas oleh Dana Kesejahteraan Nasional dilakukan secara masif untuk menjaga stabilitas kas negara. Kebijakan ini diambil lantaran obligasi pemerintah asing tidak lagi dapat diakses akibat sanksi internasional.
"Hal ini menciptakan distorsi besar dalam perekonomian dan menggambarkan prospek negatif jangka panjang yang memicu perpecahan di dalam pemerintahan,” kata Weafer.
Ketegangan internal mulai timbul antara pejabat teknokratis yang mengurus pertumbuhan ekonomi dan para pengambil keputusan politik terkait keberlanjutan beban anggaran negara pascakonflik.
"Sejak awal 2022, emas menjadi salah satu aset yang dapat dibeli oleh Dana Kesejahteraan Nasional, karena obligasi pemerintah AS dan Jerman tidak tersedia bagi mereka (akibat sanksi yang diberlakukan setelah invasi ke Ukraina),” kata Weafer.
Dari total nilai dana cadangan sebesar 150 miliar dollar AS, porsi likuid yang dimiliki Moskow saat ini berada di kisaran 50 miliar dollar AS.
"Dalam hal itu, dapat dikatakan bahwa dana tersebut telah memenuhi tujuan yang dimaksud,” tegas Weafer.
Penjualan cadangan emas juga dimanfaatkan sebagai langkah strategis untuk memperlihatkan daya tahan ekonomi Rusia di mata publik luar negeri.
"Kremlin tidak ingin cadangan tersebut berkurang karena hal itu mungkin akan memicu lebih banyak spekulasi mengenai krisis keuangan atau kesulitan ekonomi, dan ini akan melemahkan posisi geopolitik Kremlin,” ujar Weafer.
Ketersediaan dana tunai dianggap menjadi elemen penting dalam mempertahankan citra kekuatan finansial Moskow.
"Kremlin ingin menggambarkan negaranya sebagai negara yang sangat stabil dan sangat kuat, dan uang tunai sebesar 50 miliar itu merupakan bagian penting dari citra tersebut,” ujar Weafer.
Di sisi lain, status Rusia sebagai produsen utama emas dunia memberikan fleksibilitas tambahan. Pemerintah berencana memulihkan stok logam mulia secara bertahap dengan membeli pasokan dari produsen dalam negeri.
"Rusia memiliki keunggulan,” katanya.
Keunggulan produksi domestik dinilai dapat menjadi penopang ketika negara menghadapi ancaman sanksi eksternal.
"Negara itu memang memproduksi emas sendiri. Jadi, ketika khawatir akan sanksi, Rusia mengalokasikan sebagian dananya untuk pembelian emas, yang mereka beli dari produsen dalam negeri,” kata Ribakova.
Ketahanan keuangan jangka pendek pemerintah juga sangat bergantung pada dinamika harga komoditas minyak dan gas dunia di pasar internasional.
"Semuanya bergantung pada hal itu,” kata Ribakova.
Fluktuasi harga energi berpengaruh langsung pada kemampuan pemerintah dalam menarik pinjaman dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
"Ketika harga minyak tinggi, Rusia memperoleh pendapatan. Lebih mudah untuk meminjam, dan sistem keuangan domestiknya lebih sehat. Jika harga minyak turun, katakanlah, menjadi enam puluh atau empat puluh, maka langsung menghadapi krisis,” kata Ribakova.
Analis memperkirakan alokasi anggaran belanja non-pertahanan akan terus dikorbankan demi menyokong alokasi biaya operasi militer yang berlanjut.
"Putin bisa terus bertahan selama bertahun-tahun dalam kondisi saat ini,” kata Ribakova.
Meskipun kemajuan di garis depan terbatas, pasokan sumber daya negara diyakini masih memadai untuk mendanai pertikaian militer.
"Mungkin tidak ada kemajuan di garis depan, yang sejauh ini belum kita lihat, tetapi Rusia masih mampu mengalokasikan sumber daya untuk perang melawan Ukraina,” jelasnya.
Risiko krisis sistemik dalam jangka pendek dinilai masih dapat dihindari oleh Moskow.
"Bahkan jika defisit terus berlanjut seperti ini, Rusia masih bisa mendapatkan dana dan benar-benar tidak akan mengalami krisis keuangan apa pun atau berada dalam posisi geopolitik yang lemah selama 12 hingga 24 bulan ke depan,” katanya.
Tekanan berat pada likuiditas perbankan nasional sebelumnya juga diungkapkan oleh manajemen lembaga keuangan terbesar di Rusia.
"Saat ini, perbankan hanya memiliki dana yang cukup untuk disalurkan kepada pelanggan-itu adalah bisnis inti mereka. Anda dapat membeli obligasi OFZ, terutama tanpa premi yang signifikan, ketika Anda memiliki likuiditas cadangan dan yakin bahwa likuiditas itu akan tetap tersedia. Namun saat ini, situasinya justru sebaliknya," ujar Skvortsov.
Kementerian Keuangan Rusia diproyeksikan masih membutuhkan pasokan dana darurat tambahan sebesar 2 triliun hingga 3 triliun rubel untuk menutup defisit belanja militer hingga akhir tahun anggaran.