Rusia Gelar Latihan Rudal di Kuril Usai Kunjungan Vladimir Putin
Armada Pasifik Rusia menembakkan berbagai jenis rudal di wilayah selatan Kepulauan Kuril pada Kamis (20/8/2026), sebagai respons ketegangan diplomatik setelah Jepang memprotes kunjungan Presiden Vladimir Putin ke wilayah sengketa tersebut.
Latihan militer tersebut melibatkan kapal penjelajah berpeluru kendali Varyag, kapal selam nuklir Omsk, serta sistem rudal darat Bastion. Seluruh amunisi berhasil menghancurkan target simulasi kapal musuh pada jarak 300 kilometer berdasarkan panduan unit penerbangan angkatan laut.
Aksi militer Moskow ini menyusul protes diplomasi Tokyo atas kunjungan perdana Presiden Vladimir Putin ke Pulau Iturup pada 13 Agustus 2026. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menilai kunjungan itu tidak dapat diterima dan melukai perasaan masyarakat Jepang.
Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi menegaskan penolakan keras pemerintahnya terhadap peningkatan aktivitas militer Rusia di wilayah yang diklaim sebagai Empat Pulau Utara tersebut.
"Uji coba militer yang berlangsung di dekat wilayah selatan Kepulauan Kuril ini melibatkan kapal penjelajah berpeluru kendali Varyag, kapal selam bertenaga nuklir Omsk, dan sistem rudal permukaan-ke-kapal Bastion yang berbasis di darat," ungkap Armada Pasifik Rusia dalam pernyataan pada hari Kamis.
Pihak militer menegaskan tingkat akurasi serangan dalam uji tembak jarak jauh tersebut.
"They fired various types of missiles at targets simulating enemy ships at a distance of about 300 km (186 miles), with targeting data provided by naval aviation units," kata pihak armada.
Pihak armada mengonfirmasi keberhasilan penuh dari latihan penembakan sasaran tersebut.
"Data pemantauan objektif mengonfirmasi kehancuran seluruh target," tegas mereka.
Latihan tersebut langsung memicu tanggapan resmi dari pejabat tinggi luar negeri Jepang di Tokyo.
"[Jepang] tidak dapat menoleransi langkah-langkah [Rusia] untuk memperkuat kekuatan militer di empat Pulau Utara karena hal itu bertentangan dengan sikap negara kami [terkait wilayah tersebut]," kata Toshimitsu Motegi, Menteri Luar Negeri Jepang.
Motegi menuturkan bahwa kawasan tersebut secara historis merupakan kedaulatan negaranya.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Rusia memanggil Duta Besar Jepang di Moskow guna menyampaikan protes balasan atas sikap Tokyo. Pihak Rusia menegaskan kedaulatan atas Kepulauan Kuril Selatan merupakan hasil Perang Dunia II yang sah berdasarkan Piagam PBB.
"Wilayah-wilayah ini diserahkan kepada negara kami setelah Perang Dunia II, sebagaimana tertuang dalam perjanjian-perjanjian terkait dari pihak Sekutu dan Piagam PBB," kata kementerian tersebut.
Selain dinamika militer di Pasifik, diplomasi Rusia juga menyoroti perkembangan konflik di Ukraina. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov menyatakan kesiapan Moskow terhadap pembicaraan damai.
"Federasi Rusia siap mendengarkan setiap usulan dan gagasan masuk akal yang sejalan dengan tujuan yang ditetapkan oleh presiden Rusia dan memenuhi 'realitas di lapangan'," ujar Ryabkov.
Ryabkov menekankan pentingnya peran Washington dalam memengaruhi kebijakan Kyiv serta sekutu Baratnya.
"Pada tahap ini, yang lebih penting adalah sejauh mana Washington mampu memengaruhi keputusan rezim Kyiv dan para sponsor Eropanya, yang masih memimpikan 'kekalahan strategis' Rusia," tambah Ryabkov.
Sementara itu, konstelasi perdagangan energi global menunjukkan pergeseran arus pasokan. China mencatatkan pembelian minyak mentah Rusia melalui jalur laut sebesar 1,25 juta barel per hari pada Agustus 2026. Peningkatan impor China atas minyak jenis Urals dari pelabuhan Eropa Rusia menekan alokasi pasokan untuk India, yang impornya turun menjadi 1,87 juta barel per hari.
"Pembelian agresif China meningkatkan risiko kekurangan bahan bakar parah di seluruh Asia," demikian laporan Reuters yang mengutip data Kpler, Jumat (21/8/2026).