Sabrina Chairunnisa Jalani Prosedur Pembekuan Sel Telur di New York

Share

Model Sabrina Chairunnisa memutuskan untuk menjalani prosedur pembekuan sel telur atau egg freezing di salah satu klinik fertilitas di New York, Amerika Serikat, yang dikabarkan pada Rabu, 27 Mei 2026.

Langkah tersebut diambil oleh perempuan berusia 33 tahun ini di tengah aktivitas barunya menetap di New York untuk mengembangkan karier sebagai pembuat konten, seperti dilansir dari HaiBunda.

Melalui unggahan di media sosial Instagram, Sabrina membagikan kisah perjalanan medisnya tersebut kepada publik setelah sempat merasa ragu untuk mengungkapkannya.

"Kalau ngomongin perubahan hidup, rasanya hidupku tuh kayak sudah di luar prediksi BMKG. Mulai dari tiba-tiba summer school, tiba-tiba pindah ke New York, dan sekarang tiba-tiba egg freezing," ungkap Sabrina Chairunnisa.

Keputusan untuk membagikan proses ini didasari oleh keinginan memberikan edukasi serta dorongan semangat bagi para perempuan mengenai kesehatan reproduksi.

"Dan jujur aja, tadinya aku agak enggan sih untuk ceritain semua ini di social media. But then I remember, visi-misi terbesarku dalam bersosial media salah satunya ya empowering women," sambung Sabrina Chairunnisa.

Ia juga menambahkan bahwa setiap perempuan memiliki garis waktu kehidupan yang berbeda-beda dalam mengambil keputusan medis maupun personal.

"Di egg freezing journey aku ini enggak cuman share ke kalian informasi tentang egg freezingnya sendiri. Tapi dari journey ini, aku juga pengin jadi pengingat buat kita semua. Kalau timeline orang berbeda, bukan berarti mereka terlambat," ungkap Sabrina Chairunnisa.

Dalam video yang diunggahnya, Sabrina memperlihatkan momen saat dirinya menyuntikkan obat hormon secara mandiri ke area perut sebagai bagian dari persiapan stimulasi sel telur.

Prosedur medis pembekuan sel telur ini umumnya dipilih oleh perempuan lajang untuk menyimpan sel telur matang guna potensi kehamilan di masa depan sebelum kualitas reproduksi menurun akibat usia.

"Persediaan sel telur perempuan mulai menurun lebih cepat sekitar usia 37 tahun. Pada usia 43 tahun, 90 persen sel telur abnormal, yang berarti sel telur tersebut tidak memiliki potensi untuk hamil," kata Pardis Hosseinzadeh, ahli endokrinologi reproduksi dan spesialis infertilitas di Johns Hopkins Fertility Center.

Proses ini melibatkan penyuntikan hormon harian selama 10 hingga 12 hari, pemantauan USG panggul, tes darah, hingga tindakan pengambilan sel telur lewat pembedahan rawat jalan dengan anestesi.

"Membekukan sel telur setelah usia 40 tahun biasanya tidak disarankan, tetapi dapat dipertimbangkan berdasarkan kasus per kasus," ungkap Pardis Hosseinzadeh.

Sel telur yang berhasil diambil kemudian dibekukan dengan metode vitrifikasi cepat di dalam tangki nitrogen cair sebelum nantinya dicairkan dan dibuahi dengan sperma suami saat pasien siap hamil.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author