Saham China Offshore di Hong Kong Hadapi Prospek Suram
Pasar saham China yang terdaftar di Hong Kong kini menghadapi masa depan yang suram akibat gelombang investasi global yang beralih ke sektor kecerdasan buatan atau AI. Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, para investor global mulai mengabaikan emiten internet dan konsumsi yang selama ini mendominasi indeks offshore China. Modal kini lebih banyak dialirkan ke perusahaan produsen chip di daratan China serta pasar Asia Utara lain yang dinilai mendapat keuntungan langsung dari permintaan AI.
Faktor lain seperti pertumbuhan laba yang melambat dan pengetatan likuiditas turut memperparah tekanan pada indeks offshore yang rentan terhadap lemahnya konsumsi domestik.
Indeks saham China di Hong Kong mencatat penurunan hampir 8% sepanjang tahun ini, menjadikannya salah satu berkinerja terburuk dari 90 indeks global pantauan Bloomberg. Sementara itu, MSCI China Index juga terus mendekati area pasar bearish setelah mengalami kemerosotan sebesar 18% dari posisi puncaknya pada Oktober lalu.
"Indeks-indeks ini mengukur sisi ekonomi yang salah," kata Hao Hong, Chief Investment Officer di Lotus Asset Management. "Sebagian besar konstituennya adalah saham ekonomi lama (old economy) yang memiliki sedikit eksposur terhadap AI, sehingga tidak banyak investor yang memperhatikannya."
Kondisi ini kontras dengan indeks Taiwan dan Korea Selatan yang separuh bobotnya ditopang sektor semikonduktor, sedangkan Hang Seng China Enterprises Index justru didominasi 28% saham finansial dan 23% saham konsumen. Sektor internet seperti Alibaba Group Holding dan Tencent Holdings juga kehilangan momentum setelah pendapatan kuartal Maret berada di bawah ekspektasi analis akibat investasi AI yang besar dan persaingan ketat. Data Bloomberg menunjukkan analis memangkas proyeksi laba anggota HSCEI hampir 3% dibanding setahun lalu, sementara proyeksi laba KOSPI melonjak 246% dan TAIEX naik 58%.
"Kekhawatiran bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi lebih lama akibat inflasi, kekecewaan laba dari sejumlah raksasa e-commerce karena persaingan yang makin ketat, serta larangan Beijing terhadap bisnis pialang lintas batas ilegal telah menekan sentimen investor," tulis analis Bloomberg Intelligence Sharnie Wong dalam catatan tertanggal 12 Juni.
Dukungan modal dari investor domestik China daratan merosot setelah mencatat jual bersih senilai HK$3,6 miliar atau US$460 juta melalui program Stock Connect pada Mei. Arus modal keluar bulanan ini merupakan yang pertama kalinya terjadi sejak Juni 2023 berdasarkan data Bloomberg Intelligence. Namun, beberapa investor melihat valuasi HSCEI yang murah sekitar 10 kali proyeksi laba dapat menjadi peluang pemulihan dan diversifikasi portofolio dibanding indeks Taiwan atau Jepang.
"Segmen seperti properti dan konsumen benar-benar tertinggal, dan terdapat nilai yang menarik di sana," kata Dale Nicholls, manajer portofolio di Fidelity International. "Rasio risiko dan imbal hasilnya jelas telah membaik."
Kendati demikian, perlambatan kinerja saham offshore diperkirakan masih berlanjut dalam jangka pendek karena ketidakpastian regulasi persaingan usaha dan pemulihan ekonomi yang rapuh. Goldman Sachs bahkan menurunkan rekomendasi untuk H-share karena menilai adanya peningkatan opportunity cost seiring munculnya peluang investasi yang lebih menarik di bursa lain.
"Tidak ada kelompok saham yang akan memperoleh manfaat besar dari reli teknologi dan AI," kata Chauwei Yak, Chief Executive Officer di GAO Capital.