Saham Gap Inc Anjlok Akibat Perusahaan Turunkan Target Penjualan
Saham Gap Inc mengalami penurunan tajam setelah peritel pakaian tersebut memutuskan untuk menurunkan proyeksi penjualan tahunannya. Langkah ini menjadi hambatan terbaru bagi perusahaan yang tengah berupaya keras memikat kembali minat konsumen melalui pembenahan bauran produknya.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, Richard Dickson yang mulai menjabat sebagai chief executive officer pada 2023 sebenarnya telah menerapkan strategi kolaborasi yang mencolok serta menggandeng selebritas untuk mendongkrak kembali popularitas Gap.
Kendati demikian, proses pemulihan internal perusahaan tersebut menunjukkan hasil yang tidak merata. Merek utama Gap mencatatkan kemajuan paling signifikan, sementara lini pakaian olahraga mereka, Athleta, masih terus menghadapi kesulitan besar.
Lini bisnis Banana Republic dan Old Navy sempat memperlihatkan indikasi perbaikan kinerja. Namun, hasil penjualan kedua merek tersebut tetap berada di bawah ekspektasi pasar pada kuartal yang berakhir pada 2 Mei, yang menjadi catatan mengejutkan bagi Old Navy sebagai merek yang fokus pada produk bernilai terjangkau.
Secara menyeluruh, realisasi penjualan sebanding (comparable sales) untuk grup perusahaan serta untuk merek Old Navy, Banana Republic, dan Athleta meleset dari prediksi para analis. Peritel ini sekarang mengestimasi pertumbuhan penjualan bersih hanya akan mencapai maksimal 2% untuk tahun ini, turun dari target sebelumnya yang dipatok sebesar 3%.
Pada sesi perdagangan setelah jam bursa, saham Gap sempat merosot hingga 16%. Sebelum penutupan perdagangan pada hari Kamis, saham korporasi ini tercatat sudah melemah sebesar 2,3% sepanjang tahun berjalan.
Dalam pertemuan bersama para analis, Dickson mengakui bahwa perusahaan mengalami variasi performa yang cukup kentara di antara merek-merek yang mereka naungi.
"Meskipun kami tidak memulai sekuat yang kami perkirakan, kami masih berada di awal tahun," katanya.
Dickson menjelaskan bahwa penurunan kinerja penjualan pada Old Navy, yang memegang porsi sebagai merek terbesar perusahaan, dipicu oleh kegagalan pilihan produk musiman. Kategori pakaian gaun secara khusus dilaporkan tidak mampu mencapai target yang diharapkan.
"Terus terang, kami belum memiliki kombinasi mode dan nilai yang tepat untuk kategori tersebut," katanya, seraya menambahkan bahwa tantangan merek itu mencerminkan penawaran produknya dan bukan lemahnya sentimen konsumen.
Chief Financial Officer Katrina O’Connell mengungkapkan bahwa pemotongan target proyeksi tahunan Gap utamanya disebabkan oleh performa Old Navy. Penjualan sebanding untuk merek tersebut diperkirakan hanya akan bergerak mendatar hingga tumbuh sekitar 1% tahun ini.
Perusahaan ritel yang berpusat di San Francisco ini memproyeksikan penjualan bersih untuk kuartal berjalan akan stagnan atau melemah hingga 1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, lebih rendah dari angka estimasi konsensus analis.
Kondisi ini terjadi di tengah upaya keras para pelaku industri ritel untuk menarik minat beli masyarakat yang sedang tertekan oleh tingginya harga bahan bakar gasolin dan situasi inflasi yang persisten. Fenomena ini membuat konsumen membatasi pengeluaran non-primer, yang pada akhirnya menguntungkan merek-merek penyedia produk dengan nilai ekonomis tinggi.
Tekanan industri ini juga berdampak pada kompetitor mereka, American Eagle Outfitters Inc. Saham peritel tersebut ikut anjlok hingga dua digit dalam perdagangan pasca-bursa hari Kamis setelah merilis laporan penjualan sebanding kuartal pertama fiskal yang mengecewakan pasar.