SATO Perluas Akses Sanitasi Aman Guna Dukung Indonesia Emas 2045
Praktik Buang Air Besar Sembarangan (BABS) atau Open Defecation Free (ODF) masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama di Indonesia. Pemerintah sendiri menetapkan target pencapaian 70% sanitasi aman yang terintegrasi dalam visi Indonesia Emas 2045.
Target tersebut berjalan beriringan dengan indikator Sustainable Development Goals (SDGs) poin 6.2 yang berfokus pada pemenuhan sanitasi dan kebersihan. Merespons situasi ini, LIXIL melalui brand SATO mengambil langkah nyata untuk memperluas jangkauan fasilitas sanitasi di dalam negeri.
SATO Indonesia Country Leader Agung Kamasan menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya telah menorehkan kemajuan berarti dalam penyediaan akses sanitasi. Saat ini, sekitar 80% masyarakat sudah menikmati akses toilet layak, bersamaan dengan angka BABS yang terus berkurang.
"Namun karena populasi Indonesia besar, persentase kecil tetap berarti jutaan orang masih belum memiliki akses sanitasi yang aman," ujar Agung, dalam wawancara eksklusif dengan detikcom, Selasa (19/5/2026).
Menurut pandangan Agung, tantangan di sektor sanitasi saat ini tidak lagi sekadar menyediakan fisik toilet. Persoalan utama bergeser pada tata cara pengelolaan limbah pembuangan agar dapat diproses secara aman hingga ke tahap pengolahan akhir (safely managed sanitation).
Oleh karena itu, SATO menghadirkan inovasi toilet yang dirancang khusus untuk mengatasi hambatan di lapangan, seperti minimnya pasokan air hingga jalur distribusi material yang sulit menuju kawasan terpencil.
Seperti dilansir dari Detikcom, Agung memaparkan bahwa produk toilet SATO diproduksi menggunakan material polypropylene (PP). Bahan ini memiliki bobot ringan namun berdaya tahan kuat, sehingga mempermudah proses pengangkutan ke wilayah pedalaman jika dibandingkan dengan toilet keramik biasa.
"Kalau membawa toilet keramik, risikonya tinggi karena mudah pecah. Selain itu, dalam sekali perjalanan tukang biasanya hanya bisa membawa satu unit. Sementara toilet SATO lebih ringan, sehingga dalam sekali jalan tukang bisa membawa 10 hingga 20 unit," kata Agung.
Di samping aspek mobilitas, toilet SATO dirancang agar sangat hemat dalam penggunaan air. Jika model toilet konvensional memerlukan beberapa gayung air untuk sekali siram, produk SATO hanya membutuhkan satu gayung air sehingga ideal untuk wilayah yang mengalami kelangkaan air.
SATO menyematkan teknologi unggulan berupa mekanisme trap door otomatis pada sistem I-TRAP. Inovasi penutup lubang otomatis ini berfungsi menghemat volume air siraman, menekan bau tidak sedap, serta memblokir akses tikus, ular, maupun serangga untuk keluar-masuk saluran pembuangan.
Sinergi Bersama Komunitas dan Pemerintah
Dalam membumikan program sanitasi ini, SATO membangun kemitraan strategis dengan organisasi lokal, komunitas warga, hingga jajaran pemerintah daerah demi efektivitas edukasi di tengah masyarakat.
"Kita sadar bahwa sanitasi itu adalah problem besar dan kita tidak bisa bekerja sendiri. Jadi kita selama ini selalu menggandeng atau bekerja sama dengan beberapa pihak termasuk dengan pemerintah," kata Agung.
"Tapi yang paling sering kita lakukan adalah menggandeng organisasi masyarakat lokal, karena mereka yang tahu masalahnya, jadi kita bersama-sama mencari solusi untuk menanggulangi (masalah sanitasi)," imbuhnya.
Salah satu bentuk kolaborasi tersebut diwujudkan bersama Koalisi Sanitasi Pemuda (Youth Sanitation Coalition) di Lampung melalui kegiatan edukasi kreatif Musik Tepi Sungai yang menyasar kalangan generasi muda.
SATO juga menjalin kerja sama dengan Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) guna membuka akses sanitasi di kawasan 3T. Kerja sama kedua belah pihak ini diarahkan untuk menyokong program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
Melalui perpanjangan program tersebut, tercatat lebih dari 16.000 jiwa telah memperoleh fasilitas sanitasi yang lebih memadai sepanjang periode 2024-2025. Hasil nyata ini sekaligus merefleksikan visi global LIXIL untuk mewujudkan hunian yang lebih baik bagi semua orang di mana saja.
Prioritas Jangkauan ke Wilayah Indonesia Timur
Setelah bergerak di wilayah Bogor, Lampung, Papua, dan Jawa Tengah, SATO bersiap mengeksplorasi perluasan program ke sejumlah provinsi lain. Wilayah yang dibidik meliputi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Barat (Kalbar), dan Jawa Barat (Jabar).
Kawasan-kawasan tersebut ditempatkan sebagai skala prioritas karena masih berhadapan dengan persoalan keterbatasan air bersih serta kendala akses sanitasi. SATO berharap kontribusi ini dapat terus bergulir demi menyokong target Indonesia bebas dari masalah sanitasi pada 2045.
"Kami ingin semakin banyak masyarakat memiliki akses sanitasi aman dan sadar pentingnya mengelola limbah dengan baik. Sanitasi adalah bagian penting untuk mendukung kesehatan masyarakat dan masa depan Indonesia Emas 2045," kata Agung.
"Artinya akses toilet yang baik kepada masyarakat itu meningkat, sehingga diharapkan di 2045 Indonesia terbebas dari masalah sanitasi," pungkasnya.