Serangan Drone Ukraina dan Rusia Tewaskan Puluhan Warga Sipil
Eskalasi serangan drone balasan antara pasukan Ukraina dan Rusia berujung maut setelah menghantam permukiman warga serta fasilitas sipil di kedua negara pada Sabtu, 22 Agustus 2026, hingga menewaskan sedikitnya 19 orang di pihak Ukraina dan tiga warga di wilayah Rusia.
Gelombang serangan udara ini mencatat angka korban jiwa sipil tertinggi di tengah pertempuran yang telah berlangsung selama empat setengah tahun. Di Kryvyi Rih, Ukraina, sedikitnya 16 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya luka-luka akibat drone Rusia yang menghancurkan pusat perbelanjaan.
Layanan Darurat Negara Ukraina melaporkan total korban tewas akibat serangkaian gempuran Rusia mencapai 19 orang dan menyebabkan lebih dari 130 orang terluka. Empat orang di antaranya tewas saat serangan menghantam pertokoan di wilayah Mykolaiv.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam keras rentetan gempuran udara tersebut melalui media sosial.
"Serangan-serangan ini, setidaknya, merupakan tindakan teror," kata Zelenskyy.
Zelenskyy mendesak komunitas internasional untuk meningkatkan tekanan terhadap Moskow agar bertanggung jawab atas kehancuran infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa.
Sementara itu, gempuran balik dari pasukan Kyiv menerjang kawasan perumahan di wilayah Krasnodar, Rusia selatan, hingga memicu jatuhnya korban dari kalangan anak-anak.
"Pagi ini, infrastruktur sipil dan bangunan tempat tinggal di distrik Yeysk diserang oleh drone," kata Veniamin Kondratyev, Gubernur Wilayah Krasnodar.
Gubernur wilayah Krasnodar tersebut mengonfirmasi dampak dari hantaman drone terhadap kawasan pemukiman warga.
"Akibat serangan keji lainnya… Dua anak tewas, dan dua orang dewasa dirawat di rumah sakit," tambahnya.
Selain menyasar area permukiman, militer Ukraina mengerahkan drone jarak jauh untuk melumpuhkan logistik Rusia, termasuk gudang e-commerce Ozon dan Wildberries di Moskow. Wali Kota Moskow Sergeu Sobyanin menyebutnya sebagai salah satu serangan drone terbesar sejak perang dimulai.
Pemerintah Rusia mengklaim puing-puing drone Nyan buatan Inggris ditemukan di lokasi jatuh, yang memicu peringatan keras dari pihak diplomatik.
"Laporan yang menyatakan rezim Kiev menggunakan drone Inggris untuk melancarkan serangan jauh ke dalam wilayah Rusia mengonfirmasi London sengaja memilih eskalasi krisis Ukraina, sembari berbuat munafik dengan mengutarakan keinginan untuk berdamai," ungkap Kedutaan Besar Rusia di London.
Kedutaan Besar Rusia memperingatkan konsekuensi atas keterlibatan pihak asing dalam melatih atau memasok sistem persenjataan tersebut.
"Semakin dalam keterlibatannya dalam konflik ini dan semakin besar dukungannya terhadap mesin teroris Kiev, makin mahal pula harga yang harus mereka bayar," tambahnya.
PBB mencatat peningkatan korban sipil di Ukraina naik 21 persen pada empat bulan pertama 2026. Para pemimpin negara sekutu dijadwalkan menggelar pertemuan pada Senin mendatang untuk membahas bantuan pertahanan udara bagi Ukraina.