Serangan Balasan Rusia dan Ukraina Tewaskan Tujuh Warga Sipil
Aksi saling serang antara militer Rusia dan Ukraina menyebabkan sedikitnya tujuh warga sipil tewas di wilayah Dnipropetrovsk, Poltava, dan semenanjung Krimea pada Sabtu malam dan Minggu, 21 Juni 2026. Gempuran udara Moskow menewaskan tiga orang di Ukraina timur, sementara serangan pesawat tanpa awak oleh Kyiv menewaskan empat orang di wilayah Krimea yang diduduki Rusia, sebagaimana dilansir dari Detikcom melalui AFP. Intensitas serangan kedua negara meningkat dalam beberapa pekan terakhir di tengah buntunya pembicaraan damai yang dipimpin Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik sejak Februari 2022.
Di pihak Ukraina, serangan Rusia menyasar wilayah Dnipropetrovsk dan menewaskan seorang wanita lansia berusia 70 tahun di distrik Nikopol, serta mencederai sembilan orang lainnya.
"Satu orang tewas dan sembilan lainnya terluka dalam serangan Rusia di tiga distrik Dnipropetrovsk," tulis kepala administrasi militer regional Oleksandr Ganzha di Telegram. Sementara itu, gempuran Rusia di wilayah Poltava dilaporkan merenggut dua nyawa warga sipil dan mencederai belasan orang, termasuk anak-anak.
Kepala administrasi militer regional Poltava, Vitali Dyakivnych, mengonfirmasi bahwa serangan pada Sabtu malam tersebut melukai 13 orang dengan enam di antaranya adalah anak-anak. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah melumpuhkan ratusan pesawat nirkemudi Ukraina yang menyasar wilayah logistik mereka di semenanjung Krimea yang dianeksasi sejak 2014.
Serangan besar tersebut memicu pemadaman listrik di sebagian semenanjung, merusak terminal minyak di wilayah Krasnodar selatan, serta menghentikan penjualan bahan bakar akibat jatuhnya korban jiwa dari pihak sipil. "Akibat serangan drone musuh di semenanjung Kerch, sayangnya, ada korban jiwa di antara penduduk sipil," kata Gubernur Krimea yang didukung Rusia, Sergey Aksyonov, merujuk pada bagian Krimea yang berbatasan dengan Rusia. Pemerintah setempat mencatat puluhan warga mengalami luka-luka akibat gempuran yang mengincar pangkalan logistik militer Moskow tersebut.
"Menurut informasi terbaru, empat orang tewas, 28 orang terluka," tambahnya.
Pihak Ukraina menegaskan bahwa operasi militer jarak jauh mereka merupakan respons sah atas tindakan agresif Rusia dan bertujuan melemahkan jalur pasokan pasukan lawan. "Semalam, sanksi jarak jauh kami menargetkan logistik militer, industri minyak, dan pertahanan udara para penjajah," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di media sosial. Kyiv membantah telah mengarahkan serangan kepada warga sipil dan menyatakan bahwa infrastruktur militer serta Jembatan Krimea merupakan target utama untuk memutus koridor darat pasokan Rusia.
"All ini adalah tanggapan yang adil terhadap serangan brutal Rusia terhadap rakyat kami," ujar Zelensky.