Serangan Ukraina Melumpuhkan Pasokan BBM di 30 Wilayah Rusia
Gelombang serangan Ukraina terhadap kilang minyak memicu kelangkaan bahan bakar minyak di sedikitnya 30 wilayah Rusia, termasuk Moskow dan sekitarnya, sebagaimana dilansir dari Detikcom via laporan Reuters. Jaringan SPBU Gazprom Neft dan Tatneft mulai membatasi penjualan BBM di ibu kota.
Krisis bahan bakar tersebut berdampak langsung pada sektor usaha transportasi dan industri konstruksi yang bergantung pada distribusi BBM. Warga di kawasan selatan seperti Krasnodar dan Sochi bahkan harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan bensin.
"Tidak bisa dikatakan bahwa bahan bakarnya tidak ada sama sekali. Namun, jelas ada krisis," kata Oleg Grigorenko, Pemimpin Redaksi portal media independen Rusia 7×7.
Masalah kelangkaan tersebut juga mulai meluas ke sektor perekonomian warga secara umum akibat terganggunya rantai pasokan logistik.
"Ini bukan sekadar masalah pribadi ketika, misalnya, Anda meninggalkan kota dan tidak tahu apakah bisa kembali lagi. Ini juga merupakan masalah ekonomi," kata Oleg Grigorenko, Pemimpin Redaksi portal media independen Rusia 7×7.
Grigorenko menambahkan bahwa pengemudi taksi, kurir, dan sektor konstruksi swasta mulai kehilangan pendapatan. Di sisi lain, agen properti Igor Zakharchenko menceritakan kondisi kelangkaan BBM di wilayah Sochi.
"Dengan suasananya yang tenang dan ritme hidup yang santai, Sochi saat ini mengingatkan pada masa sebelum Olimpiade, ketika belum banyak mobil di jalan dan jumlah wisatawan maupun penduduk kota masih jauh lebih sedikit. Namun masalahnya, tidak ada bensin di Sochi," kata Igor Zakharchenko, Agen Properti Sochi.
Meski parlemen Rusia memproyeksikan pasokan pulih dalam dua hingga tiga pekan, ekonom Nikolai Korzhenevsky menilai krisis bahan bakar akan berlangsung lebih lama akibat penurunan kualitas BBM yang merusak mesin kendaraan.
"Mobil tidak bisa menyala dan harus dibawa ke bengkel. Orang-orang yang sama juga mengatakan bahwa bengkel memiliki daftar tunggu hingga beberapa bulan, bahkan di Moskow," kata Nikolai Korzhenevsky, Ekonom.
Ia menyoroti masalah kelangkaan suku cadang pengganti yang memperparah kelumpuhan moda transportasi publik maupun pribadi.
"Setelah itu, Anda masih harus menunggu berbulan-bulan untuk suku cadang pengganti. Jelas, sebagian kendaraan tidak bisa menggunakan bensin tersebut ke tangki mereka," kata Nikolai Korzhenevsky, Ekonom.
Korzhenevsky memproyeksikan penurunan produksi minyak harian Rusia dapat memicu krisis ekonomi sistemik berkepanjangan yang memukul pendapatan nasional.
"Pada 2019, Rusia memproduksi 11,5 juta barel minyak per hari. Kini jumlahnya kurang dari 9 juta barel. Jika tren ini berlanjut dan masalah pengolahan minyak memburuk, produksi dapat turun menjadi 8 juta barel. Kondisi itu akan menciptakan situasi menuju krisis ekonomi dan sistemik secara menyeluruh," kata Nikolai Korzhenevsky, Ekonom.
Jurnalis bisnis Vyacheslav Shiryaev menilai rencana impor BBM 200.000 ton per hari dari negara lain sulit diwujudkan dalam kondisi Rusia yang terisolasi. Sementara itu, pemerintah Rusia mulai memberlakukan sistem prioritas alokasi BBM untuk layanan publik dan pejabat.
"Hal ini terjadi di hadapan orang-orang yang telah menunggu berjam-jam dan menimbulkan banyak kekecewaan," kata Igor Lipsits, Ekonom.
Lipsits menyamakan sistem pembatasan distribusi tersebut dengan kondisi kelangkaan barang pada masa keruntuhan Uni Soviet.
"Dulu ada sistem pasokan khusus bagi kelompok elite, dengan toko dan gudang sendiri, tempat mereka bisa membeli apa pun yang mereka inginkan tanpa banyak kesulitan, tanpa mengantre, dan dengan harga yang relatif rendah. Hal itu membuat warga Rusia sangat marah. Ketika Boris Yeltsin mengumumkan akan menghapus pusat-pusat distribusi tertutup itu, masyarakat mendukungnya dengan antusias. Kini, kita berada dalam situasi yang serupa," kata Igor Lipsits, Ekonom.
Shiryaev menilai bahwa serangan Ukraina pada kilang minyak berpotensi memicu kekacauan ekonomi nasional hingga melumpuhkan rantai pasokan logistik dan militer Rusia.
"Ukraina dapat menciptakan disorganisasi dan kekacauan di dalam Rusia, yang berujung pada hilangnya kendali secara menyeluruh," kata Vyacheslav Shiryaev, Jurnalis Bisnis.
Dampak kelangkaan solar diprediksi dapat menghentikan operasional angkutan kereta api dan distribusi truk pangan di seluruh wilayah.
"Jika tidak ada solar, jaringan kereta api Rusia sepanjang 6.000 kilometer akan berhenti. Hal itu juga dapat melumpuhkan ratusan pabrik dan usaha. Tanpa solar, puluhan ribu truk tidak bisa beroperasi, bahan makanan tidak sampai ke toko, dan petani tidak bisa memanen hasil panen mereka," kata Vyacheslav Shiryaev, Jurnalis Bisnis.
Kerusakan masif pada infrastruktur pengolahan minyak dinilai dapat melumpuhkan efektivitas komando pemerintah Rusia secara menyeluruh.
"Jika Ukraina menghancurkan seluruh infrastruktur pengolahan minyak, Putin akan mendapati bahwa ketika ia memberi perintah, perintah itu tidak dilaksanakan," kata Vyacheslav Shiryaev, Jurnalis Bisnis.