Singapura Bentuk Kliring Emas untuk Jadi Pusat Dagang Dunia

Share

Singapura berambisi memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan emas batangan dunia melalui pembentukan sistem kliring emas. Dilansir dari Bloomberg Technoz, negara tetangga yang tidak memiliki tambang emas ini rupanya menjadi tujuan ekspor emas terbesar kedua bagi Indonesia sepanjang kurun waktu 2021 hingga 2025.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Jumat (19/6/2026), nilai kumulatif ekspor emas Indonesia dengan kode HS 71 ke Singapura menembus angka US$13,67 miliar selama periode lima tahun tersebut. Jumlah ini menempatkan Singapura tepat di bawah Swiss yang mencatatkan nilai impor emas sebesar US$22,79 miliar dari Indonesia.

Pengiriman emas ke Singapura tercatat fluktuatif dari tahun ke tahun. Nilai ekspor pada tahun 2021 mencapai US$1,15 miliar, kemudian naik menjadi US$1,28 miliar pada 2022, lalu sedikit terkoreksi ke US$1,23 miliar pada 2023, menjadi US$1,11 miliar pada 2024, sebelum akhirnya melonjak signifikan hingga US$2,04 miliar pada tahun 2025.

Memasuki periode Januari sampai April 2026, akumulasi nilai ekspor komoditas ini ke Singapura berada di angka US$257,7 juta secara year on year (yoy). Perolehan tersebut mengalami penurunan yang cukup drastis jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mampu menyentuh US$493 juta yoy.

Rincian data bulanan dari BPS memperlihatkan ekspor emas ke Singapura pada Januari 2026 senilai US$54,02 ribu, Februari sebesar US$32,94 ribu, Maret mencapai US$103,19 ribu, dan April sebesar US$67,56 ribu. Secara keseluruhan, performa ekspor ini merosot hingga 64% dibanding kuartal pertama tahun lalu.

Mekanisme Kliring Over-the-Counter Baru

Di sisi lain, langkah Singapura untuk merajai pasar logam mulia ditandai dengan rencana peluncuran sistem kliring emas pada tahun ini. Institusi perbankan raksasa global seperti JPMorgan Chase & Co. dan Deutsche Bank AG dipastikan ikut berpartisipasi dalam proyek besar yang digarap oleh Ibu Kota negara tersebut.

Wakil Perdana Menteri sekaligus Ketua Otoritas Moneter Singapura, Gan Kim Yong, menyatakan bahwa Bursa Efek Singapura bakal membangun mekanisme kliring over-the-counter pada akhir tahun 2026. Perdagangan antar-bank pun diproyeksikan akan mulai meningkat pesat pada tahun depan.

“Kami tidak berupaya menggantikan pusat perdagangan dan likuiditas emas yang sudah mapan,” katanya pada Konferensi Logam Mulia Asia-Pasifik pada hari Senin.

“Sebaliknya, Singapura dapat berfungsi sebagai simpul tepercaya dalam ekosistem emas global – menghubungkan permintaan regional dengan likuiditas global dan mendukung aktivitas pasar selama jam perdagangan Asia.”

Inisiatif teranyar dari Singapura ini diprediksi bakal memperketat rivalitas dengan Hong Kong sebagai sesama pusat perdagangan emas di kawasan regional. Kedua kota finansial utama Asia ini terus mematangkan strategi demi merespons tingginya minat investor terhadap logam mulia sebagai opsi perlindungan kekayaan jangka panjang.

Sejumlah lembaga keuangan seperti DBS Group Holdings Ltd., Oversea-Chinese Banking Corp., United Overseas Bank Ltd., dan ICBC Standard Bank Plc juga telah sepakat untuk bergabung. Mereka bersama JPMorgan dan Deutsche Bank resmi menjadi anggota kliring pascapenandatanganan nota kesepahaman dengan Bursa Efek Singapura pada hari Senin kemarin.

“Seiring meningkatnya permintaan investor terhadap emas global, kami melihat Singapura memainkan peran pelengkap di samping pusat-pusat utama lainnya dengan mendukung likuiditas lintas zona waktu dan memenuhi kebutuhan klien yang terus berkembang,” kata Wai Mei Hong, pejabat senior negara Singapura di JPMorgan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author