Starbucks Korea Tutup 2000 Gerai Imbas Boikot Massal

Share

Jaringan kedai kopi Starbucks Korea mengambil kebijakan ekstrem dengan menutup sementara seluruh gerai di Korea Selatan pada Senin, 22 Juni 2026, mulai pukul 15.00 waktu setempat akibat gelombang boikot massal dari masyarakat. Langkah penutupan operasional serentak yang melibatkan lebih dari 2.000 gerai ini dilakukan demi memberikan pelatihan sejarah kontemporer serta kesadaran sosial wajib bagi seluruh karyawan dari level atas hingga bawah. Keputusan tersebut diambil pemilik lisensi setelah program promosi komersial produk tumbler berbahan stainless steel bermerek "SS Tank" pada 18 Mei lalu memicu krisis hubungan masyarakat karena dinilai menghina momentum peringatan tragedi pembantaian berdarah gerakan pro-demokrasi Gwangju tahun 1980.

Penutupan toko selama setengah hari ini diperkirakan memicu kerugian penjualan hingga 2,1 billion won atau setara 1,4 juta dolar AS berdasarkan kalkulasi data firma riset IGAWorks.

Skandal ini mencuat setelah tim pemasaran menyusun jargon promosi ofensif bertajuk "Tank Day" menggunakan saran dari alat kecerdasan buatan (AI) tanpa proses verifikasi manual dan pengawasan ketat dari rantai manajemen. Selain istilah "Tank Day" yang sensitif karena rezim militer dahulu melindas demonstran dengan tank, kampanye tersebut secara fatal mengusung slogan "Thwack it on the table!" atau "tak on the table!" untuk mendefinisikan ketukan keras di meja.

Slogan buatan AI itu membangkitkan memori kelam tahun 1987 terkait kematian aktivis mahasiswa Park Jong-chul yang tewas disiksa, di mana pihak kepolisian kala itu merilis pernyataan bohong bahwa korban tewas karena terkejut saat petugas memukul meja dengan bunyi "tak". Imbas dari kecerobohan materi iklan tersebut langsung menurunkan volume transaksi kartu kredit Starbucks hingga 26 persen pada pekan pertama setelah kontroversi merebak, sebelum akhirnya merangkak naik atau pulih sebagian sebesar 12,8 persen pada awal Juni menurut data Mobile Index.

Meskipun materi kampanye langsung ditarik dalam hitungan jam, kemarahan publik meluas hingga memicu aksi konsumen menghancurkan cangkir serta tumbler Starbucks secara terbuka, serta membuat kementerian pemerintah memutuskan hubungan kerja sama dengan waralaba tersebut. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, Shinsegae Group selaku pemilik saham mayoritas E-Mart dan pemegang lisensi resmi langsung memecat direktur utama Starbucks Korea pada hari yang sama saat skandal mencuat. Kasus ini juga telah bergeser ke ranah hukum pidana setelah Kepolisian Metropolitan Seoul menerima laporan dari keluarga serta pihak terkait korban tragedi Gwangju.

Aparat penegak hukum bahkan telah memanggil Kepala Tim Audit Shinsegae Group, Yang Jongwan, untuk mendalami proses persetujuan internal yang meloloskan kampanye sensitif tersebut ke aplikasi publik.

Pihak kepolisian setempat kini telah resmi mendaftarkan Chairman Shinsegae Group, Chung Yong-jin, beserta mantan CEO Starbucks Korea sebagai tersangka atas dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik. Terkait kerugian masif dan boikot perusahaan, lembaga riset data pasar IGAWorks merilis laporan mengenai situasi transaksi pascakrisis. "Volume pembayaran dilaporkan sempat anjlok hingga 26% pada pekan pertama setelah kontroversi meletus, dan meskipun sempat menunjukkan tanda pemulihan sebesar 12,8% di awal Juni, angka transaksi tersebut masih berada 25% di bawah level normal sebelum krisis terjadi," rilis lembaga riset data pasar IGAWorks mengenai kerugian masif perusahaan.

Chung Yong-jin selaku pemilik lisensi telah merilis surat permohonan maaf tertulis serta membungkuk tiga kali sebagai bentuk penyesalan mendalam dalam sebuah konferensi pers yang disiarkan di televisi nasional, sementara kantor pusat global Starbucks di Seattle juga mengirimkan surat permohonan maaf resmi kepada Yayasan 18 Mei.

Seluruh eksekutif Shinsegae Group bersama para CEO perusahaan afiliasi dijadwalkan akan mengikuti pelatihan sejarah terpisah yang dipimpin oleh profesor sejarah dan sosiologi pada 24 Juni 2026, sementara operasional gerai Starbucks di area bandara internasional tetap berjalan dikecualikan dari penutupan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author