Starbucks Korea Tutup Semua Gerai untuk Pelatihan Sejarah

Share

Starbucks Korea mengambil langkah tidak biasa dengan menutup seluruh gerai di Korea Selatan secara serentak pada Senin, 22 Juni 2026 mulai pukul 15.00 waktu setempat guna melaksanakan pelatihan sejarah modern dan sensitivitas sosial wajib bagi seluruh karyawan. Kebijakan penutupan selama setengah hari ini dipicu oleh gelombang protes dan boikot massal setelah perusahaan meluncurkan promosi "Tank Day" untuk seri tumbler mereka pada 18 Mei, yang bertepatan dengan hari peringatan pembantaian Gwangju 1980. Langkah penutupan ini diperkirakan merugikan Starbucks sebesar 2,1 miliar won atau sekitar 1,4 juta dolar AS dalam bentuk kehilangan penjualan menurut data firma IGAWorks, dan menjadi penutupan awal nasional pertama sejak jaringan toko ini beroperasi di Korea Selatan pada 1999.

Materi promosi menggunakan slogan yang dinilai membangkitkan memori kelam penindasan militer serta kasus penyiksaan aktivis mahasiswa Park Jong-chul pada 1987, di mana frasa tersebut dipilih setelah manajemen berkonsultasi dengan alat kecerdasan buatan (AI).

Pihak kepolisian dari Unit Investigasi Kejahatan Publik Badan Kepolisian Metropolitan Seoul kini tengah menyelidiki kasus ini atas dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik, serta telah memanggil kepala tim audit Shinsegae Group, Yang Jongwan, sebagai saksi pada 17 Juni 2026. Shinsegae Group selaku pemegang lisensi Starbucks di Korea Selatan langsung memecat CEO Starbucks Korea pada hari skandal terjadi, sementara Chairman Shinsegae Chung Yong-jin beserta jajaran eksekutif lainnya dijadwalkan mengikuti pelatihan yang sama secara terpisah.

Starbucks Korea mengumumkan akan merombak proses pengambilan keputusan internal dengan menerapkan daftar periksa sensitivitas sosial bersama ahli eksternal serta memperketat penyaringan lintas departemen legal dan kendali mutu. Volume pembayaran Starbucks sempat anjlok hingga 26% pada pekan setelah kontroversi merebak, dan meskipun sempat mengalami pemulihan sebesar 12,8% pada minggu pertama Juni, angka penjualan tersebut masih berada sekitar 25% di bawah level sebelum kontroversi terjadi.

Korea Selatan sendiri merupakan pasar terbesar Starbucks di luar Amerika Serikat dan China, di mana jaringan supermarket E-Mart milik Shinsegae memegang 67,5% saham bisnis lokal ini, sedangkan sisanya dimiliki oleh dana kekayaan berdaulat Singapura.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author