Steve Clarke Sebut Skotlandia Lebih Nyaman Jadi Tim Kuda Hitam
Pelatih tim nasional Skotlandia Steve Clarke menyatakan bahwa timnya lebih merasa nyaman menyandang status sebagai tim yang tidak diunggulkan menjelang laga lanjutan fase grup Piala Dunia 2026 melawan Maroko pada Jumat, 19 Juni 2026. Setelah meraih kemenangan tipis 1-0 atas Haiti pada Sabtu lalu, Skotlandia menyadari bahwa hasil imbang dapat mengamankan tiket ke babak gugur turnamen besar untuk pertama kalinya dalam sejarah, namun Clarke tidak menganggap remeh tantangan tersebut. "They reached the last four of the last World Cup, and I've got a feeling this Moroccan team is probably slightly better than that," kata Clarke kepada jurnalis pada Kamis.
Mantan bek Chelsea tersebut memperkirakan para pemainnya akan bangkit menghadapi tantangan dari wakil Afrika Utara tersebut, yang sebelumnya sempat memimpin atas Brasil sebelum menyudahi laga perdana grup dengan skor imbang 1-1.
"Sometimes the Scottish psyche, the Scottish mentality is that we're a little bit more comfortable when we're the underdogs," ujar Clarke. Sejarah mencatat performa impresif Skotlandia saat menghadapi lawan dengan peringkat lebih tinggi, termasuk kemenangan 3-2 atas Belanda yang merupakan finalis Piala Dunia 1978, meskipun hasil tersebut belum cukup menyelamatkan posisi mereka saat itu.
Clarke menambahkan bahwa status sebagai tim favorit saat melawan Haiti menjadi salah satu pemicu performa skuad yang kurang padu pada pertandingan hari Sabtu lalu. "This time we're the underdogs, and sometimes Scotland prefer it that way," tutur Clarke.
Dirinya menegaskan bahwa tim nasional Skotlandia tidak akan terganggu oleh berbagai kemungkinan kalkulasi kelayakan untuk melaju ke babak 32 besar dan memilih fokus pada hal-hal mendasar di lapangan. "If you can't win the game, don't lose the game," tambah Clarke. Menurutnya, perhitungan peluang lolos merupakan konsumsi bagi pihak luar dan para pendukung, bukan konsentrasi utama bagi internal timnya saat ini.
"Permutations and whatever you want to look at, that's for you guys and all the punters that are out there to think about, not for us," pungkas Clarke.
Di sisi lain, para pendukung mengantisipasi taktik pertahanan yang lebih rapat dari Clarke untuk meredam serangan Maroko, termasuk potensi memainkan Ryan Christie guna memperkuat lini tengah dan opsi transisi ke formasi lima bek. Langkah taktis ini diproyeksikan untuk membendung pergerakan bek kanan Maroko, Achraf Hakimi, yang kerap menginisiasi serangan dari lini belakang. "I think he's the best full-back in the world at the minute," kata kapten Skotlandia Andy Robertson memberikan pujian.
Robertson menilai Hakimi memiliki kebebasan bermain yang tinggi serta kemampuan transisi yang cepat di area pertahanan lawan hingga kembali ke posisi bertahan dalam situasi satu lawan satu.
"He just plays with that freedom and can pop up … in your own box and then all of a sudden he's back, one-v-one defending," ujar Robertson.