Suhu permukaan laut global melampaui rekor sepanjang Maret

Share

Layanan perubahan iklim Eropa Copernicus mencatat suhu permukaan rata-rata laut di luar wilayah kutub mencapai 21,1 derajat Celcius pada Sabtu, melampaui angka sebelumnya dan menandai tekanan pada sistem iklim. Dilansir dari Detik iNET.

Angka 21,1 derajat itu sedikit di atas 21,09 derajat yang tercatat pada tiga hari berbeda di Maret 2024, serta jauh di atas rata-rata untuk periode tahun ini, menurut Copernicus. Dilansir dari Detik iNET.

Copernicus menyoroti bahwa lautan yang lebih hangat berpotensi memicu cuaca ekstrem, meningkatkan permukaan laut, dan merusak kehidupan laut.

"Rekor ini adalah sinyal jelas lainnya dari lautan yang berada di bawah tekanan yang semakin besar," kata Dr Samantha Burgess, wakil direktur Copernicus.

Menurut Burgess, kondisi ini tidak berdiri sendiri karena sistem menerima tambahan panas dari fenomena cuaca dan pemanasan jangka panjang akibat aktivitas manusia.

"El Nino menambah suhu panas ke dalam sistem, tetapi hal itu terjadi dipadukan dengan pemanasan global yang didorong oleh ulah manusia selama beberapa dekade," tambahnya, dikutip detikINET dari BBC.

Rata-rata suhu laut dunia cenderung mencapai puncaknya tiap tahun pada Maret atau April, bertepatan akhir musim panas di belahan Bumi selatan, bukan pada Agustus. Dilansir dari Detik iNET.

Para ilmuwan menilai lautan sudah sangat panas meski El Nino masih jauh dari perkiraan puncaknya. El Nino membawa perairan sangat hangat ke permukaan Samudra Pasifik tropis bagian timur dan tengah, sehingga wilayah yang lebih hangat berarti suhu rata-rata global biasanya ikut melonjak.

El Nino diperkirakan terus menguat hingga Natal dan berada di jalur untuk menjadi yang terkuat dalam beberapa abad terakhir. Kondisi tersebut dapat membuat suhu laut naik lebih tinggi lagi, menurut para ilmuwan.

Lautan yang lebih hangat juga dapat menyuplai badai dengan kelembapan dan energi ekstra serta mengintensifkan gelombang panas daratan di sejumlah wilayah pesisir dengan mengurangi efek pendinginan dari angin laut. Air lebih hangat akan memuai dan meningkatkan risiko banjir pesisir, sementara suhu panas laut yang intens dapat menghancurkan habitat laut seperti terumbu karang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author