Suku Bunga BI dan The Fed Bayangi Gerak Pasar Saham
Aktivitas pasar modal domestik kini diwarnai antisipasi para pelaku pasar terhadap keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia dan Federal Reserve di tengah penguatan indeks saham pada perdagangan Rabu (17/6/2026). Sentimen global ikut memengaruhi pergeseran portofolio investor ke sektor defensif, sementara proyeksi positif dari Bank Dunia tetap menopang prospek ekonomi nasional jangka panjang. Investor disarankan untuk menanti kepastian konfirmasi penguatan indeks saham sebelum menambah posisi penempatan dana mereka.
"Kiwoom Research sarankan sebaiknya tunggu break out level penting 6.300 sebelum memutuskan average up. Ingat bahwa kita masih ada beberapa event penting di pekan ini yang berpotensi timbulkan goncangan pasar (RDG BI, serta keputusan MSCI dan FTSE Russell)," ujar Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas dilansir dari Antara.
Sikap hati-hati ini muncul saat kepemilikan saham global dan eksposur teknologi dikurangi untuk dialokasikan ke pasar Jepang serta sektor material dan perbankan. "Sebaliknya, alokasi ke Jepang, sektor material dan perbankan meningkat. Posisi long saham semikonduktor global menjadi crowded trade terbesar sepanjang sejarah survei dengan 80 persen responden menempatkannya sebagai posisi paling ramai," ujar Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas.
Ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed dalam setahun ke depan meningkat hingga 40 persen berdasarkan survei Global Fund Manager Bank of America. Selain itu, mayoritas responden meyakini sikap hawkish tetap dipertahankan dalam pertemuan Federal Open Market Committee.
Dari dalam negeri, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia diproyeksikan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Pasar domestik juga mencermati rencana penerbitan Panda Bonds berdenominasi yuan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Di sisi lain, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,0 persen pada 2026 didukung konsumsi domestik yang kuat.
Kondisi pasar komoditas mencatat penurunan harga minyak dunia menjelang penandatanganan nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss pada Jumat (19/6/2026).
Pembukaan Selat Hormuz secara penuh menjadi poin penting dalam negosiasi lanjutan yang dijadwalkan berlangsung selama 60 hari ke depan.