Operator Wisata Naikkan Tarif Paket Jip Lava Tour Merapi

Share

Kenaikan harga bahan bakar minyak memicu para operator wisata menaikkan tarif paket jip Lava Tour Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, rata-rata sebesar Rp 50 ribu per unit guna menutup pembengkakan biaya operasional armada.

Penyesuaian ongkos pelesiran tersebut berdampak pada pergeseran harga layanan yang kini dipatok mulai dari Rp 450 ribu, sebagaimana dilansir dari Detik Travel.

Operator Kaliurang Amazing Story (KAS), Aprin Triana, mengonfirmasi bahwa penyesuaian tarif jip wisata Lava Tour Merapi kini berada di kisaran Rp 450 ribu sampai Rp 500 ribu per unit dari ketentuan sebelumnya sebesar Rp 400 ribu.

"Paket wisata Lava Tour Merapi rata-rata naik Rp 50 ribu. Tarif yang sebelumnya sekitar Rp 400 ribu per unit jip kini menjadi Rp 450 ribu hingga Rp 500 ribu," kata Aprin.

Lonjakan harga BBM dinilai menekan pengeluaran operasional karena armada jip mengandalkan Pertamax yang naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, sementara bahan bakar diesel merangkak naik ke kisaran Rp 23 ribu hingga Rp 24.800 per liter.

"Kenaikan BBM sangat berpengaruh terhadap minat wisatawan untuk berkunjung ke Merapi. Karena jip menggunakan Pertamax, otomatis biaya operasional ikut naik," ujar Aprin.

Meski demikian, arus kunjungan terpantau tetap mengalir pada Senin (15/6/2026) pagi dengan kedatangan rombongan pelancong yang menumpangi bus besar asal Bogor dan Jakarta, travel, serta belasan kendaraan pribadi dari Jawa Barat dan Jawa Timur.

Wisatawan tetap memadati kawasan lereng Gunung Merapi sejak sebelum pukul tujuh pagi demi mengejar udara sejuk dan menghindari sengatan matahari tengah hari meskipun harus menghadapi guncangan di jalur berbatu.

Perkembangan usaha wisata jip ini tercatat berakar dari aksi kemanusiaan pasca-erupsi besar Merapi pada tahun 2010 sebelum akhirnya bertransformasi menjadi penggerak ekonomi lokal.

"Saat itu cuma ada dua armada dan belum ada komunitas. Karena banyak orang ingin melihat kawasan yang terdampak erupsi, akhirnya warga mulai mengantar wisatawan menggunakan jip," kata Aprin.

Sektor ini kini mengelola sekitar seribu unit jip berizin resmi yang tersebar di 25 basecamp operator, termasuk KAS Adventure yang mengoperasikan 23 unit armada aktif sementara 10 unit lainnya masih dalam perbaikan.

"Peak season biasanya hari kerja dan pagi hari. Kalau weekend memang ramai, tetapi wisatawan kadang tidak bisa menikmati perjalanan secara maksimal karena terlalu padat," kata Aprin.

Di sisi lain, interaksi akrab antara pengemudi sekaligus pemandu wisata dengan para penumpang menjadi bagian dari pengalaman menyusuri material vulkanik.

Pengemudi jip Willys keluaran 1956, Juhari, berkelakar untuk menenangkan penumpang anak-anak yang pucat akibat guncangan kendaraan di jalur bergelombang.

"Jangan muntah ya, Dek," goda Juhari.

Juhari yang telah melakoni pekerjaan ini sejak 2021 kemudian memberikan edukasi mengenai asal-usul objek wisata Batu Alien yang terbentuk dari sisa erupsi 2010.

"Batu Alien itu bukan dari luar angkasa. Dalam bahasa Jawa, alien artinya pindah. Batu ini material muntahan Merapi yang pindah dari dasar kawah ke dusun ini," ujar Juhari.

Ia juga menunjukkan beberapa lekukan di permukaan bongkahan batu besar tersebut yang sering diasosiasikan menyerupai bagian wajah manusia oleh para pengunjung.

"Nah, ini bagian mata, hidung, dan ini telinganya," kata Juhari.

Penjelasan mengenai kemiripan wajah tersebut langsung memicu reaksi spontan dari salah satu wisatawan anak-anak di lokasi.

"Ah, overthinking. Aku nggak bisa ngebayangin itu wajah orang," celetuk anak tersebut.

Candaan tersebut kemudian ditanggapi oleh kakaknya yang ikut serta dalam rombongan tour jip pagi itu.

"Imajinasimu lemah," kata kakak anak tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author