Tekanan Ekonomi Picu Fenomena Belanja Kecil Self-Reward

Share

Tekanan ekonomi yang terus membayangi masyarakat memicu pergeseran pola konsumsi yang unik. Kebiasaan berbelanja tidak sepenuhnya hilang, melainkan berubah wujud menjadi pembelian barang-barang kecil yang terjangkau.

Seperti dilansir dari Detikcom, fenomena psikologis ini dikenal sebagai lipstick effect. Masyarakat cenderung beralih dari pengeluaran besar ke kemewahan kecil sebagai bentuk hiburan emosional saat kondisi keuangan memburuk.

Nadya Safitri, seorang admin operasional perusahaan logistik berusia 27 tahun di Bekasi, merasakannya langsung. Meski gajinya stagnan dan harga kebutuhan pokok melonjak, ia tetap rutin membeli produk kecantikan setiap bulan melalui media sosial.

"Kalau lagi capek banget sama kerjaan atau mikirin uang, aku tuh tetap pengin ngerawat diri. Kayak… yaudah ini satu-satunya hal yang bikin aku senang dan bisa aku kontrol," kata Nadya Safitri.

"Kadang aku juga sadar, ini sebenarnya bukan kebutuhan banget. Tapi kalau nggak beli, rasanya malah makin stres."

Pengeluaran Nadya Safitri untuk kebutuhan kosmetik ini berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per bulan. Nilai tersebut cukup terasa bagi dirinya yang berpenghasilan mendekati UMR dan masih harus membiayai kos serta mengirim uang ke orang tua.

"Skincare kayak pelembab wajah misalnya walaupun belum habis, tapi udah pengin coba yang lain. Kayak pengin cari yang lebih cocok, padahal mungkin ya sama aja," ujarnya.

"Kadang aku beli bukan karena butuh, tapi karena lagi pengin aja. Apalagi kalau lihat warna baru atau lagi tren, rasanya pengin ikut punya juga," ucap Nadya Safitri.

Istilah ini awalnya populer pada awal 2000-an ketika Leonard Lauder dari Estée Lauder menemukan penjualan lipstik naik setelah krisis 2001. Pola serupa bahkan tercatat sejak masa Great Depression, di mana penjualan kosmetik tetap tinggi.

Kini, maknanya meluas tidak hanya pada kosmetik, melainkan juga pada makanan, minuman, atau hiburan sederhana. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai fenomena ini sebagai indikator yang kurang baik bagi ekonomi makro.

"Lipstick effect ini cenderung indikator yang kurang baik sebenarnya, untuk sektor secara keseluruhan. Untuk industri kosmetik, ini peluang. Tetapi bagi sektor lainnya, kalau orang membeli kosmetik secara impulsif berarti dia sedang mengurangi pembelian barang lainnya," terang Bhima Yudhistira.

Menurut Bhima Yudhistira, perubahan ini menandakan adanya pergeseran prioritas masyarakat. Konsumen mengurangi pos pengeluaran besar seperti rekreasi atau perjalanan, lalu menggantinya dengan belanja kecil demi kepuasan instan.

"Kalau dilihat secara ekonomi, ini menandakan kondisi makro mengarah ke perlambatan," ungkap Bhima Yudhistira.

Pelarian Lewat Kuliner Viral

Perilaku serupa juga terjadi pada sektor makanan dan minuman. Di Supermal Karawaci, Tangerang, masyarakat rela mengantre demi membeli makanan yang sedang tren, seperti Dubai chewy cookie seharga Rp 65 ribu per buah.

Henny Musfidah, seorang karyawan retail, turut membeli kue viral tersebut karena didorong rasa penasaran. Sebagai bagian dari kelompok konsumen yang kerap menimbang harga, ia sempat ragu mengingat nominal tersebut setara dengan dua kali porsi makan.

"Ini Dubai Chewy Cookie yang pertama kali aku beli. Tapi ternyata mahal banget mana kecil lagi," kata Henny Musfidah.

"In this economy beli sekali aja biar nggak penasaran. Awalnya memang pas sebelum beli tuh excited banget, tapi pas udah makan yaudah… malah agak menyesel sih," tutur Henny Musfidah.

Peneliti INDEF, Tauhid Ahmad, mengonfirmasi bahwa konsumsi barang mewah terjangkau ini menjadi mekanisme bertahan secara psikologis. Masyarakat ingin tetap merasa hidup normal di tengah himpitan finansial.

"Ketika kita menghadapi masalah keuangan, tetapi keinginan untuk belanja masih tetap ada, masyarakat tetap mengonsumsi bahkan lebih tinggi untuk barang yang sifatnya terkesan luxury (mewah) sebagai cover," kata Tauhid Ahmad.

Kendati demikian, kebiasaan belanja tanpa perencanaan memiliki risiko jangka panjang. Tabungan masyarakat terancam tergerus dan memicu potensi utang baru apabila pola konsumtif ini tidak dikendalikan dengan baik.

"Perilaku konsumtif tanpa perencanaan dapat menggerus tabungan dan memicu utang," kata M. Rizal Taufikurahman dari INDEF.

"Ini bisa jadi masalah ke depan kalau tidak dikontrol."

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tekanan harga memang masih membayangi masyarakat sepanjang 2026. Inflasi tahunan sempat menyentuh 4,76 persen pada Februari 2026, sebelum akhirnya melandai ke angka 3,08 persen pada Mei 2026.

Laporan dari LPEM FEB UI juga menegaskan bahwa tekanan pada kelas menengah di Indonesia terus berlanjut sejak awal 2025. Penurunan konsumsi rumah tangga membuat masyarakat menahan diri dari pembelian aset atau kebutuhan besar.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author