Teori Matematika Prediksi Manusia Punah 17000 Tahun Lagi

Share

Sebuah teori matematika kontroversial memprediksi bahwa umat manusia memiliki peluang 95 persen untuk punah dalam waktu 17.100 tahun ke depan akibat berbagai potensi katastrofe. Prediksi tersebut dihitung oleh para matematikawan menggunakan formula statistik yang dikenal sebagai argumen hari kiamat.

Dilansir dari Scientific American, teori probabilistik ini dikembangkan dari hasil kerja astrofisikawan Brandon Carter pada tahun 1983. Formula tersebut menggunakan prinsip Kopernikus, yaitu sebuah gagasan bahwa manusia tidak menempati posisi yang unik atau istimewa dalam sejarah, melainkan berada pada titik acak di lini masa.

Perhitungan ini dimulai dengan estimasi bahwa sekitar 117 miliar manusia telah hidup sepanjang sejarah bumi. Dengan asumsi posisi acak saat ini, pendukung teori menyimpulkan ambang batas total populasi manusia tidak akan melebihi 2,34 triliun orang, yang diperkirakan bakal tercapai dalam 17.100 tahun berdasarkan tingkat kelahiran saat ini.

Kendati demikian, model matematika ini memicu perdebatan luas dan ditolak oleh berbagai ilmuwan karena mengabaikan variabel kompleks. Kritikus menilai formula ini terlalu menyederhanakan masalah dan mengabaikan kemajuan teknologi, perubahan tingkat kelahiran, serta kolonisasi ruang angkasa.

Selain argumen hari kiamat, terdapat proyeksi lain mengenai dinamika populasi global. Universitas Milan pada bulan Mei menerbitkan studi yang menunjukkan populasi manusia dapat mengalami penurunan tajam pada tahun 2064, meskipun skenario tersebut merupakan ilustrasi matematis dan bukan ramalan nyata.

Di sisi lain, ancaman kepunahan yang lebih dekat juga disuarakan oleh fisikawan peraih Hadiah Nobel, David Gross. Gross menyoroti bahaya nyata yang dihadapi peradaban manusia saat ini, terutama yang bersumber dari konflik nuklir serta perkembangan kecerdasan buatan.

Ketika ditanya dalam sebuah diskusi fisika mengenai peluang manusia mencapai teori terpadu dalam 50 tahun ke depan, Gross memberikan jawaban yang suram melalui LiveScience.

"Currently, I spend part of my time trying to tell people … that the chances of you living 50 [more] years are very small. Due to the danger of nuclear war, you have about 35 years." kata David Gross, Fisikawan Teoretis.

Pandangan berbeda datang dari perspektif teologis yang menolak penggunaan model statistik untuk menentukan masa depan peradaban. Alkitab mengajarkan bahwa akhir sejarah manusia tidak berjalan sesuai formula matematika, melainkan sepenuhnya berada di bawah rencana dan kedaulatan Tuhan.

Mengenai kepastian hari akhir tersebut, terdapat penegasan tertulis dalam Kitab Suci yang menjadi landasan iman bagi umat kristiani.

“Concerning that day and hour no one knows, not even the angels of heaven, but My Father only” ujar Yesus, dalam Injil Matius 24:36.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author