Tidur Jam 9 Malam Meningkatkan Kebahagiaan dan Kesehatan Mental
Kualitas dan durasi tidur yang baik memegang peranan penting dalam menjaga kondisi fisik serta mental seseorang. Saat beristirahat, tubuh dan otak melakukan pemulihan untuk mengatur emosi, menekan stres, serta mengembalikan energi yang terkuras. Durasi istirahat yang ideal untuk memperoleh manfaat tersebut berkisar antara 7 hingga 9 jam setiap malam.
Istirahat lebih awal, seperti pada pukul 9 malam, memiliki kaitan erat dengan peningkatan rasa bahagia. Dikutip dari HaiBunda, terdapat beberapa alasan medis dan psikologis mengapa individu yang terbiasa tidur pukul 9 malam merasa lebih bahagia dalam menjalani kehidupan mereka.
Pertama, kelompok ini bangun dalam kondisi yang lebih segar karena kebutuhan istirahatnya terpenuhi secara konsisten. Dibandingkan dengan orang yang begadang, mereka yang tidur lebih awal memiliki fokus dan hubungan sosial yang lebih baik.
Kedua, rutinitas ini mendukung peningkatan aktivitas fisik. Sebuah studi PNAS tahun 2025 mengungkapkan bahwa orang yang beristirahat lebih cepat cenderung melakukan lebih banyak aktivitas fisik selama jam bangun. Ketiga, kebiasaan tersebut menciptakan ruang untuk kesadaran penuh atau mindfulness. Berdasarkan studi di jurnal Emotion tahun 2012, orang yang bangun pagi cenderung lebih bahagia dan sehat karena beraktivitas dengan kesadaran penuh.
Keempat, jadwal yang konsisten membantu melindungi kesejahteraan diri. Individu yang mempertahankan waktu tidur ini terhindar dari kekacauan rutinitas di pagi hari, sehingga emosi mereka menjadi lebih tenang. Kelima, mereka memiliki waktu alami untuk bersantai sebelum memejamkan mata. Kebiasaan positif seperti membaca buku di tempat tidur atau menjauhkan ponsel dari jangkauan membantu meningkatkan kenyenyakan istirahat.
Keenam, pola ini menghindarkan seseorang dari fenomena jet lag sosial, yaitu kelelahan kronis akibat sinkronisasi sosial yang buruk pada orang yang gemar begadang. Kondisi ini sering memicu penurunan kesehatan mental. Ketujuh, risiko gangguan kesehatan mental menjadi lebih rendah. Sebuah studi dari JAMA Psychiatry menunjukkan bahwa orang yang tidur tengah malam memiliki risiko terkena depresi hingga 25 persen lebih tinggi dibandingkan dengan orang rata-rata.