Tiga KEK Manufaktur Ajukan Perluasan Lahan Hadapi Antrean Investor

Share

Tiga Kawasan Ekonomi Khusus manufaktur terbesar di Indonesia mengajukan perluasan lahan karena tingginya minat investor asing yang mengantre untuk masuk. Informasi tersebut disampaikan oleh Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso di Jakarta Pusat pada Jumat (19/6/2026).

Permintaan ekspansi kawasan ini mencakup KEK Gresik, KEK Kendal, dan KEK Galang Batang di Bintan, sebagaimana dilansir dari Detik Finance. Lonjakan permintaan ini dinilai menjadi indikator kuat bahwa kepercayaan pemodal luar negeri terhadap perekonomian domestik masih kokoh.

"Dari sekian banyak KEK itu, Kawasan Ekonomi Khusus, itu tiga KEK manufaktur terbesar, itu mulai Gresik, kemudian Kendal, dan Galang Batang di Bintan, itu tiga-tiganya itu mengajukan perluasan lahan," kata Susiwijono Moegiarso, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Pemerintah mencatat potensi tambahan investasi asing yang siap masuk ke tiga KEK tersebut diproyeksikan menembus angka sekitar Rp 557 triliun. Realisasi modal ini bakal berjalan secara bertahap lantaran para pelaku usaha perlu membangun fasilitas industri seperti smelter dan pabrik pengolahan.

"Kenapa? Karena investasi yang ada itu sudah penuh gitu, dan yang mau datang investor asing itu ngantri. Tadi pagi saya diskusi dengan teman-teman potensi untuk masuk tambahannya yang asing yang mau masuk, di tiga KEK saja kita hitung sekitar Rp 557 triliun ultimate ya, tidak dalam waktu segera," tambah Susiwijono Moegiarso, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Secara rinci, pengelola KEK Gresik mengusulkan tambahan area seluas 1.200 hektare demi memenuhi permintaan pasar. Sementara itu, KEK Kendal yang tingkat keterisiannya sudah menyentuh 100 persen mengajukan perluasan lahan sebesar 1.000 hektare.

Adapun KEK Galang Batang di Bintan merencanakan penambahan wilayah seluas 2.600 hektare guna mengakomodasi industri baru. Kawasan ini bersiap menerima ekspansi usaha, terutama pada sektor alumina serta petrokimia.

"Terus yang di Galang Batang itu, di Bintan, yang untuk alumina itu, ada tambahan sekian banyak industri petrochemical, macem-macem, ngantri minta tambah 2.600-an hektare," tutur Susiwijono Moegiarso, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Ekspansi masif di area-area industri ini menjadi penanda positif di tengah volatilitas pasar keuangan domestik. Aktivitas riil di lapangan menunjukkan dinamika yang berbeda dari sentimen jangka pendek pasar modal.

"Satu indikator yang kalau terlalu ditanya, ini kan selalu problemnya kenapa ada flukuasi nilai tukar, kemudian IHSG segala, salah satunya kan ngomongin apakah investor asing masih percaya untuk investasi. Faktanya di tiga KEK ini benar-benar terjadi dan malah mengajukan perluasannya dua kali lipat," tutup Susiwijono Moegiarso, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author