Tim Medis Angkat Tumor Ovarium Seberat 47 Kilogram di AS
Tim medis di rumah sakit St. Vincent's Riverside berhasil mengangkat tumor ovarium seberat 47 kilogram dari tubuh seorang perempuan berusia 20 tahun bernama Allison Fisher tepat sebelum Natal 2022, dilansir dari HaiBunda.
Kondisi medis langka ini membuat perut Fisher membesar hingga berisi sekitar 46 liter cairan. Fisher sempat mengabaikan gejala pendarahan tidak teratur dan sakit perut sejak tahun 2020 karena takut memeriksakan diri ke dokter.
Rasa takut tersebut muncul karena Fisher kerap mendapatkan penanganan yang kurang tepat dari tenaga medis terkait berat badannya sejak masa pertumbuhan. Selain itu, hilangnya sang ayah pada usia 16 tahun serta ketiadaan asuransi kesehatan saat puncak pandemi membuat kondisi kesehatannya terabaikan.
"Saya membiarkan diri saya percaya bahwa jika saya mengabaikannya, itu akan hilang. Saya takut. Saya benar-benar takut," kata Fisher, dilansir laman CBS47 and FOX30.
Fisher menjelaskan bahwa trauma masa lalu terhadap penilaian dokter mengenai berat badannya menjadi salah satu faktor utama yang membuatnya enggan mencari bantuan medis.
"(Saat tumbuh dewasa) terlepas dari alasan saya datang ke sana, apakah itu flu atau infeksi telinga, saya selalu diberi tahu, 'kamu harus menurunkan berat bendan. Kamu harus menurunkan berat badan'," ungkap Fisher.
Keengganan tersebut diperparah oleh perasaan bahwa keluhan fisiknya tidak akan didengarkan secara serius oleh pihak medis.
"Jika tidak ada yang mau mendengarkan saya, jika mereka selalu mengatakan bahwa saya harus menurunkan berat badan, lalu apa gunanya pergi? Apa gunanya mendengarkan tubuh saya?" sambungnya.
Fisher mulai mengalami pendarahan tidak teratur serta sakit perut yang terus-menerus selama hampir satu tahun penuh.
"Saat itu sedang puncak pandemi, dan saya sangat takut untuk keluar rumah. Saya tidak ingin repot mencari dokter. Saya juga tidak punya asuransi kesehatan, jadi saya mengabaikan masalah saya sepenuhnya," ujarnya.
Pembengkakan rahim yang ekstrem tersebut kemudian membuat Fisher tidak mampu berdiri lebih dari lima menit dan mengganggu fungsi organ tubuh lainnya secara drastis.
"Rasanya seperti saya sedang hamil 10 anak. Saya tidak bisa berbaring tengkurap. Rasanya seperti semua organ saya hancur," kata Fisher.
Operasi pengangkatan tumor berukuran besar tersebut akhirnya ditangani oleh Dr. Martin Martino menggunakan teknologi robotik khusus guna mempercepat pemulihan pasien.
"Kami pernah melihat yang berukuran besar, tetapi untuk mengeluarkannya melalui sayatan kecil, saya belum pernah melakukan sebelumnya," kata Martino.
Melalui tindakan medis tersebut, tim dokter juga berhasil memperbaiki posisi ovarium kiri Fisher yang sempat terpelintir sejauh 10 sentimeter guna menyelamatkan kesuburannya.
"Yang sangat menarik dalam kasusnya (Fisher) adalah setelah kami mengangkatnya (tumor), kami melihat ovarium yang lain. Ovarium kiri terpelintir tiga kali. Ovarium itu terpelintir sekitar 10 sentimeter, dan itu sangat membantu kami untuk meluruskannya dan menyelamatkan kesuburan (Fisher) di masa depan, serta kesempatannya untuk memiliki anak."
Berdasarkan data University of Colorado Gynecologic Oncology, tumor ovarium jinak tercatat menyerang sekitar 50 persen perempuan dengan siklus menstruasi tidak teratur dan 30 persen perempuan dengan siklus teratur.