TNI dan Kemendikdasmen Mobilisasi Bantuan Darurat Bencana Gempa NTT

Share

TNI bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mempercepat penanganan darurat pascagempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur dengan mengerahkan kapal rumah sakit, lima KRI, serta mendistribusikan tenda kelas darurat.

Gempa bumi tersebut mengakibatkan 71 orang meninggal dunia. Selain itu, sektor pendidikan turut terdampak masif dengan 1.378 satuan pendidikan mengalami kerusakan dan 502 sekolah di antaranya rusak berat.

TNI Angkatan Darat mengoperasikan Kapal ADRI XC II BM yang membawa fasilitas medis lengkap beserta logistik, ambulans, tandon air, dan bahan pokok ke lokasi bencana pada Rabu (19/8/2026).

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maruli Simanjuntak menegaskan penanganan bencana di NTT memerlukan komitmen jangka panjang dari seluruh pihak.

"Kita harus punya napas panjang. Kalau hanya one hit kirim selesai, saya kira penderitaan saudara-saudara kita akan berlanjut sampai beberapa bulan ke depan. Kita akan terus melakukan evaluasi dua-tiga bulan ke depan dan berpikir lagi apa yang diperlukan di wilayah bencana NTT," kata KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak.

Evaluasi berkelanjutan akan terus dilakukan TNI AD dalam kurun dua hingga tiga bulan mendatang untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat dan air bersih tetap terpenuhi.

Di sisi lain, TNI AL memobilisasi lima armada KRI, dua helikopter, dan ratusan prajurit Korps Marinir. KRI dr. Soeharso-990 dikerahkan membawa alat berat dan fasilitas rumah sakit lapangan, sementara helikopter Bell 412 mendistribusikan logistik melalui jalur udara.

Dampak bencana juga memaksa 38 ribu warga sekolah mengungsi. Pemerintah memprioritaskan keamanan fisik peserta didik dengan mengalihkan sementara moda pembelajaran.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menyampaikan rincian data korban dari kalangan tenaga pendidik dan siswa dalam penjelasannya.

"Tiga di antaranya peserta didik dan satu tenaga pendidik yang meninggal dunia, serta 38 ribu warga sekolah yang mengungsi," kata Wamendikdasmen Prof. Dr. Atip Latipulhayat.

Mengingat guncangan susulan yang masih berpotensi bahaya, otoritas pendidikan menghentikan sementara aktivitas tatap muka di bangunan sekolah.

"Gempa bumi berdampak pada 1.378 satuan pendidikan, dengan 502 sekolah di antaranya dilaporkan rusak berat," tutur Prof. Dr. Atip Latipulhayat.

Sebagai solusi jangka pendek, proses belajar mengajar digeser ke area pengungsian dan rumah tinggal para siswa.

"Pembelajaran dilaksanakan dari rumah dan tempat pengungsian agar menghindari bangunan yang berpotensi roboh dan melukai akibat gempa susulan yang terus berlangsung," imbuh Prof. Dr. Atip Latipulhayat.

Guna menunjang keberlanjutan pendidikan, Kemendikdasmen berkolaborasi dengan BNPB untuk mendirikan ruang kelas sementara berbasis tenda di titik-titik terdampak.

"Saat ini akan didistribusikan tenda yang diharapkan dapat mulai digunakan sebagai ruang kelas darurat bagi sekolah yang mengalami rusak berat," kata Prof. Dr. Atip Latipulhayat.

Bantuan teknis berupa panduan pembelajaran fleksibel dan modul dukungan psikososial telah disalurkan sejak 16 Agustus untuk mendampingi siswa selama masa tanggap darurat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author