Tragedi American Airlines 191 Tewaskan 273 Orang Akibat Mesin Lepas

Share

Kecelakaan maut American Airlines Penerbangan 191 menjadi salah satu bencana penerbangan terburuk dalam sejarah Amerika Serikat. Tragedi ini dipicu oleh terlepasnya mesin pesawat saat proses lepas landas berlangsung.

Seperti dikutip dari Detikcom melalui laman resmi Lembaga Transportasi Nasional AS (NTSB), insiden yang melibatkan pesawat McDonnell-Douglas DC-10-10 ini terjadi pada 25 Mei 1979.

Pesawat tersebut jatuh menimpa area ladang kosong di dekat taman karavan. Lokasi jatuhnya berjarak sekitar 4.600 kaki di sebelah barat laut dari ujung landasan pacu 32R Bandara Internasional Chicago-O'Hare, Illinois.

Peristiwa naas itu bermula ketika penerbangan 191 melakukan proses lepas landas di landasan pacu 32R. Saat itu, kondisi cuaca di sekitar area bandara terpantau cerah dengan jarak pandang mencapai 15 mil.

Namun, kendala fatal muncul tepat saat rotasi lepas landas. Mesin bagian kiri, dudukan pylon, serta komponen sepanjang 3 kaki pada pinggiran depan sayap kiri mendadak terlepas dan jatuh ke landasan pacu.

Kondisi tersebut menyebabkan jet komersial itu kehilangan kendali total. Kendati sempat menanjak hingga ketinggian 325 kaki, posisi pesawat mulai miring ke kiri hingga melewati garis vertikal.

Saat posisi sayap terbalik, bagian moncong pesawat langsung menukik tajam ke bawah garis horizon. Badan pesawat akhirnya menghantam ladang kosong dan memicu kobaran api besar yang merusak seluruh konstruksi penerbangan.

Dampak benturan dan ledakan hebat tersebut menewaskan seluruh 271 penumpang serta awak di dalam pesawat. Selain itu, dua orang warga yang berada di darat turut meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka-luka.

Kejadian ini juga menimbulkan kerusakannya fasilitas di sekitar lokasi. Hantaman puing-puing pesawat menghancurkan sebuah bangunan hanggar tua, beberapa unit mobil, dan satu rumah mobil.

Berdasarkan hasil penyelidikan resmi, penyebab utama jatuhnya pesawat ditetapkan karena timbulnya kondisi asymmetrical stall serta hilangnya kendali atas kemiringan armada.

Kondisi ini berawal dari terlepasnya mesin nomor satu beserta pylon pendukungnya di momen krusial lepas landas. Kerusakan pada struktur pylon tersebut dipicu oleh prosedur perawatan yang tidak sesuai standar.

Faktor lain yang disinyalir memperburuk keadaan adalah minimnya jalur komunikasi. Kurangnya koordinasi serta pembagian informasi terkait kerusakan pasca-perawatan sebelumnya terjadi antara pihak operator, produsen pesawat, dan Federal Aviation Administration (FAA).

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author