Bank Indonesia Catat Transaksi Mata Uang Lokal Tembus Rp400 Triliun

Share

Bank Indonesia melaporkan volume transaksi Local Currency Transaction sepanjang Januari hingga April 2026 melonjak hingga 309 persen secara tahunan mencapai 22,61 miliar dolar AS atau setara Rp400,19 triliun.

Lonjakan signifikan dari periode tahun lalu yang sebesar 7,33 miliar dolar AS ini mencerminkan perluasan diversifikasi penggunaan mata uang domestik dalam transaksi perdagangan lintas negara.

Bank sentral mencatat jumlah pelaku skema ini juga terus meningkat dari tahun ke tahun hingga mencapai rata-rata 5.265 pelaku per bulan per April 2026.

Sebagai perbandingan historis, rata-rata pelaku LCT tercatat hanya 497 pelaku per bulan pada 2021, lalu menjadi 1.741 pelaku pada 2022, 2.602 pelaku pada 2023, 5.020 pelaku pada 2024, dan sempat menyentuh 9.720 pelaku sepanjang tahun 2025.

Dalam implementasinya, China menjadi mitra dagang terbesar Indonesia dengan kontribusi mencapai 89 persen dari total transaksi, disusul Jepang sebesar 6 persen, dan Malaysia sebanyak 3 persen.

Skema bilateral melalui bank Appointed Cross Currency Dealer ini awalnya dimulai pada 2018 bersama Malaysia dan Thailand, sebelum diperluas ke Jepang, China, Korea Selatan, serta Uni Emirat Arab, dan segera diimplementasikan dengan Singapura, India, serta Arab Saudi.

Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruth A. Cussoy Intama, menjelaskan bahwa pertumbuhan ini menunjukkan penguatan upaya Indonesia menekan ketergantungan terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian global.

"Ini baru Januari sampai April. Moga-moga terus naik ya, baik volume maupun pelakunya," ujar Ruth saat media briefing di Makassar.

Ruth menilai tren penggunaan mata uang lokal kini semakin berkembang karena banyak negara mulai menyadari pentingnya efisiensi transaksi bilateral, terutama saat tensi perdagangan internasional meningkat.

"Dengan pertimbangan tertentu, mereka pasti punya pertimbangan tertentu seperti kita juga. Tetapi akhirnya mereka menyadari, ayo deh kita segerakan," katanya.

Diversifikasi mata uang ini juga ditujukan untuk meredam dampak gejolak global, terutama di tengah tren penguatan dolar AS terhadap transaksi perdagangan dan keuangan antarnegara.

"Volumenya naik tajam dan ini berhasil mendorong diversifikasi mata uang," kata Ruth.

Pihak Bank Indonesia menegaskan bahwa mekanisme ini bukan bertujuan untuk meninggalkan atau menghindari dolar AS sepenuhnya karena mata uang tersebut tetap dominan dalam sistem keuangan global.

"Bukan berarti kita menghindari dolar AS, karena kita tahu transaksi global masih dominan menggunakan dolar AS. Tetapi untuk negara-negara yang memang memiliki volume transaksi besar dan bisa langsung menggunakan mata uang domestik, kenapa harus lewat dolar dulu?" tuturnya.

BI menilai skema ini mampu meningkatkan efisiensi biaya transaksi karena eksportir dan importir tidak perlu lagi melakukan konversi melalui mata uang perantara.

"Untuk negara-negara yang memang transaksinya banyak langsung, bisa dengan (mata uang) domestik, kenapa kita harus pakai dollar AS dulu? Karena kalau muter, namanya muter, udah pasti ada middleman, udah pasti nggak efisien," ungkapnya.

Dinamika global saat ini dinilai memicu percepatan kerja sama bilateral penggunaan mata uang lokal dalam investasi dan perdagangan oleh berbagai negara mitra.

"Local Currency Transaction ini menurut kami merupakan salah satu inisiatif yang perlu terus dikembangkan, apalagi sejak Presiden AS menerapkan Liberation Day. Jadi sudah saatnya kita memperkuat kerja sama bilateral melalui skema LCT," kata Ruth.

Implementasi LCT dipandang dapat memperdalam pasar keuangan regional serta memperluas akses partisipasi pelaku pasar di kawasan.

"Perkembangan LCT yang dilakukan Bank Indonesia diawali dengan Malaysia dan Thailand, kemudian berkembang ke Jepang, China, Korea, Singapura, dan India. Dalam waktu dekat yang akan segera diimplementasikan adalah Singapura, India, dan Saudi Arabia," kata Ruth.

Langkah penguatan skema ini didukung oleh kalangan ekonom karena dinilai memberikan dampak positif secara nyata bagi stabilitas nilai tukar nasional.

"Bukan kita menghindari, enggak mau dolar AS. Enggak," kata Ruth.

Selain menyederhanakan proses perdagangan, stabilitas biaya transaksi menjadi daya tarik utama bagi para pelaku usaha.

"Tetapi, untuk negara-negara yang memang transaksi banyak langsung dengan bisa domestik, kenapa kita harus pakai dolar AS dulu karena kalau muter, sudah pasti ada middleman, sudah pasti enggak efisien," jelas dia.

Dukungan terhadap efisiensi ini juga disuarakan oleh kalangan eksternal yang melihat potensi besar LCT dalam menjaga ketahanan ekonomi domestik.

"Jadi saya juga menyuarakan juga LCT," kata Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede.

Bank Indonesia memastikan bakal terus melakukan upaya penguatan agar transaksi LCT bisa terus meningkat sehingga penggunaan dolar AS bisa diminimalisasi dan memberikan dampak positif bagi pergerakan nilai tukar rupiah.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author