Ulama Sepuh NU Keluarkan 7 Seruan Jelang Muktamar Ke-35

Share

Sejumlah ulama sepuh Nahdlatul Ulama melayangkan Tujuh Poin Seruan Moral dalam Forum Silaturahim di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (20/8/2026), untuk mengawal Muktamar Ke-35 NU di Jombang agar berjalan jujur, sejuk, dan bebas transaksi politik.

Pertemuan tersebut digelar untuk merespons keresahan atas munculnya isu-isu pengondisian dukungan kandidat menjelang perhelatan tertinggi organisasi yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin menegaskan bahwa proses pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang bertugas menunjuk Rais Aam harus steril dari kepentingan pragmatis dan pesanan pihak luar.

"Ahwa itu adalah representasi para ulama untuk memilih rais aam yang lahir dari hati nurani. Benar-benar tidak merupakan paket pesanan apalagi transaksi," ujar Kiai Ma'ruf Amin.

Mantan Wakil Presiden RI itu juga menyoroti risiko gangguan legitimasi organisasi apabila pemilihan tersebut diwarnai oleh praktik politik uang maupun mobilisasi yang tidak patut.

"Benar-benar ulamanya itu tidak merupakan suatu paket pesanan, apalagi kalau di situ ada dihitung dengan masalah transaksi, atau mobilisasi, ataupun juga ada upaya-upaya hal-hal yang tidak terpuji lainnya," ujar Kiai Ma'ruf Amin.

Ia mengingatkan agar seluruh pihak dapat menerima hasil forum permusyawaratan tertinggi tersebut dengan lapang dada.

"AHWA itu adalah representasi para ulama yang untuk memilih Rais Aam, yang lahir mestinya dari hati nurani dan memilih orang yang terbaik, representasi ulama yang terbaik yang punya selain kapasitas, juga integritas," ujar Kiai Ma'ruf Amin.

Kiai Ma'ruf Amin meminta seluruh elemen menjaga agar muktamar dapat melahirkan kepemimpinan yang sah dan dihormati.

"Kalau itu terjadi, itu kita khawatirkan kemudian Muktamar itu menjadi tidak legitimate. Yang kita harapkan itu tidak ada, supaya Muktamar itu legitimit. Yang terpilih memang layaknya terpilih, yang tidak terpilih juga legawa," ujar Kiai Ma'ruf Amin.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf mengimbau agar para peserta muktamar menjaga suasana kondusif serta tidak mudah terpengaruh oleh kabar bohong yang beredar di media sosial.

"Saya berharap kita bisa sama-sama menjaga ketenangan, kesejukan. Di medsos itu banyak sekali komentar-komentar, potongan-potongan berita yang jauh dari kenyataan," ujar Saifullah Yusuf.

Gus Ipul memastikan seluruh tahapan persiapan teknis maupun materi konsep muktamar telah selesai disiapkan oleh panitia.

"Persiapan-persiapan di tingkat teknis maupun konsep sudah tuntas sepenuhnya. Untuk itu saya ingin menyampaikan, banyak sekali di medsos menjelang muktamar ini berita-berita yang tidak benar, berita-berita yang merusak jam'iyah Nahdlatul Ulama," ujar Saifullah Yusuf.

Menteri Sosial tersebut menambahkan bahwa tradisi menghormati kiai dan ulama harus tetap dijaga di tengah dinamika perbedaan pandangan.

"Dari awal kita dididik untuk menghormati ulama, menghormati kiai, menghormati guru-guru kita. Sekarang kita lihat ada sebagian di antara kita, di lingkungan ulama, yang mulai kehilangan kendali diri dan memberikan pernyataan-pernyataan yang tidak seharusnya," ujar Saifullah Yusuf.

PBNU meminta seluruh warga nahdliyin menyaring setiap kabar simpang siur demi menjaga marwah dan keutuhan jam'iyah.

"Saya tidak tahu ada unsur kesengajaan atau tidak. Isu-isu yang marak itu saya terus terang enggak mau menyebut satu per satu. Tapi banyak yang hoaks, banyak yang palsu, banyak yang fitnah," ujar Saifullah Yusuf.

Berdasarkan kajian pakar, terdapat empat figur yang menguat dalam bursa calon Ketua Umum PBNU, yakni KH Yahya Cholil Staquf, KH Imam Jazuli, KH Abdul Hakim Mahfudz, dan KH Muhammad Yusuf Chudlori.

PBNU mengonfirmasi telah mengundang Presiden Prabowo Subianto untuk menghadiri sekaligus membuka secara resmi Muktamar Ke-35 NU di Jombang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author