Umat Islam Peringati Maulid Nabi dengan Amalan dan Sejarahnya
Umat Islam akan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada Selasa, 25 Agustus 2026, sebagai momentum untuk mengenang kelahiran dan meneladani akhlak Rasulullah di berbagai wilayah Indonesia dan dunia.
Perayaan ini biasanya diisi dengan amalan seperti memperbanyak shalawat, puasa sunnah, menghadiri majelis Maulid, dan memperbanyak sedekah sebagai bentuk rasa syukur dan cinta kepada Nabi Muhammad SAW, dilansir dari detik.com dan rri.co.id.
Dalam amalan yang dianjurkan, memperbanyak shalawat menjadi bentuk penghormatan penting. Rasulullah bersabda, "Orang yang paling berhak mendapatkan syafa'atku di hari kiamat adalah orang yang paling banyak bersholawat kepadaku," ujar Rasulullah dalam hadis riwayat Tirmidzi.
Puasa sunnah, terutama pada hari Senin yang merupakan hari kelahiran dan diutusnya Nabi, juga dianjurkan. Rasulullah pernah menjelaskan, "Itu adalah hari aku dilahirkan, pada hari itu aku diutus dan pada hari itu aku mendapatkan wahyu," menurut hadis Muslim.
Kegiatan majelis Maulid menjadi sarana untuk menyampaikan kisah dan teladan Nabi. Dalam hadis Ahmad disebutkan, "Barang siapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu…" yang menggarisbawahi pentingnya ilmu dan pengajaran dalam tradisi Islam.
Selain itu, sedekah dan aktivitas sosial sangat ditekankan. Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 254, "Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari…" sebagai pengingat pentingnya kepedulian sosial.
Sejarah peringatan Maulid Nabi tidak muncul saat Nabi Muhammad SAW masih hidup, melainkan berkembang kemudian. Menurut catatan sejarah, tradisi ini mulai dikenal di kalangan Dinasti Fatimiyah yang berpaham Syiah Ismailiyah pada abad ke-12 Masehi, sebagaimana dicatat oleh Ibnu al-Ma’mun dan dikutip oleh al-Maqrizi, melansir metrotvnews.com dan antaranews.com.
Perayaan Maulid pada masa Fatimiyah tidak hanya mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, tapi juga peringatan tokoh penting lain seperti Ali bin Abi Thalib dan Fatimah. Tradisi ini kemudian menyebar ke wilayah Sunni, terutama melalui penguasa seperti Nur al-Din Zangi dan syekh dari Mosul, kemudian berkembang di Mekkah dan wilayah lainnya.
Perayaan Maulid di Indonesia memiliki variasi yang berbeda, termasuk tradisi lokal seperti Walimah di Gorontalo yang memadukan zikir, selawat, dan berbagi makanan. Kegiatan ini menjadi sarana mempererat ukhuwah dan memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Makna utama Maulid Nabi adalah mengenang kelahiran sekaligus menghidupkan keteladanan Rasulullah melalui nilai kejujuran, kasih sayang, kesabaran, keadilan, dan kepedulian yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, menurut antaranews.com.