UT Austin Pimpin Kampus Texas di Peringkat Global

Share

Universitas Texas di Austin (UT Austin) berhasil memimpin jajaran perguruan tinggi di Texas dalam daftar Best Global Universities 2026-2027 yang dirilis oleh U.S. News and World Report. Berdasarkan laporan resmi, evaluasi tersebut mengukur reputasi serta performa riset global dari total 2.250 universitas top di seluruh dunia menggunakan 13 indikator penilaian.

Selain pencapaian akademik terbaru ini, UT Austin juga memiliki nilai sejarah mendalam yang disimbolkan oleh gedung ikonik Menara UT. Bangunan tersebut menyimpan banyak kenangan lintas generasi bagi para alumni dan keluarga besar kampus, termasuk kisah masa kecil dari Alan Bloebaum yang menjelajahi area tersebut pada tahun 1950-an bersama adiknya, David.

Kenangan tersebut berawal dari sang ibu yang bekerja sebagai sekretaris pendeta di University Baptist Church dan selalu memastikan anak-anaknya memiliki kegiatan produktif selama libur musim panas.

"had a firm belief that she didn’t want us to be at loose ends." kata Mrs. Bloebaum, Ibu Alan Bloebaum.

Alan yang kini berusia 84 tahun menceritakan pengalamannya mengitari wilayah kampus UT Austin yang saat itu masih sangat terbuka untuk diakses oleh siapa saja.

"We kids — that’s just what we did, roamed around and looked at places and found things. We went over to campus and went through every building, up and down the halls, and looked in rooms and in the Tower," ujar Alan Bloebaum, Alumni UT Austin.

Ia menambahkan bahwa kondisi keamanan dan aksesibilitas bangunan pada masa lampau jauh berbeda dibandingkan dengan era modern saat ini.

"Things were a lot more accessible then," ujar Alan Bloebaum, Alumni UT Austin.

Alan mengakui bahwa dirinya selalu memiliki ketertarikan sekaligus rasa takut yang unik setiap kali berada di tempat yang tinggi.

"Going to the top of tall buildings has always interested me — and scared me a bit when I could do it in person. As a kid — and still now as an old man — I am fascinated by the Tower." ujar Alan Bloebaum, Alumni UT Austin.

Saat berusia remaja, Alan dan adiknya menemukan akses tangga rahasia yang mengarah langsung ke bagian atas menara tanpa pengawasan ketat.

"We said, ‘Gosh, who knew these were here!’ We never saw anybody in that stairwell. It wasn’t closed or anything, but there was never anybody in it. We wondered, well, is it just something that everybody knows about?" ujar Alan Bloebaum, Alumni UT Austin.

Sebelum mencapai dek observasi di lantai 29, mereka harus mendaftarkan diri terlebih dahulu kepada petugas yang berjaga di lantai 27.

"That’s where the lady sat, and that’s where you registered that you wanted to go up to the observation deck. We always signed our names, and we went up." ujar Alan Bloebaum, Alumni UT Austin.

Dari atas dek observasi tersebut, kedua bersaudara ini dapat melihat pemandangan kota Austin dengan sangat jelas hingga ke rumah mereka.

"We loved going up there because it was fun to say, ‘There’s so and so. There’s such and such a place. There’s the Capitol.

There’s this street. It’s the kind of thing that kids do, and we were just big enough, we could see over the wall." ujar Alan Bloebaum, Alumni UT Austin.

Ketika mengelilingi dek tersebut, Alan sempat memperhatikan lubang pembuangan air hujan di bagian bawah dinding pembatas menara.

"It sure would be easy to get down here [below the wall] and shoot through those." ujar Alan Bloebaum, Alumni UT Austin.

Alan menjelaskan bahwa pemikiran tersebut murni merupakan imajinasi anak-anak yang sering bermain permainan ala koboi pada masa itu.

"We played Cowboys and Indians a lot in those days. In fact, I’m sitting here looking at my vest and chaps, and gun and cowboy hat and handcuffs that I had when I was a little kid. I don’t think it occurred to us that that would ever happen.

But you know, Cowboys and Indians — shooting behind rocks and trees, you are down below the level of that wall, and there’s no way anybody from down below could get to you. You see these movies of old forts that have these slots in the walls, and you stick a rifle through there. We thought that would be a perfect place to do that sort of thing." ujar Alan Bloebaum, Alumni UT Austin.

Saat berkuliah di jurusan biologi pada tahun 1960, Gedung Utama dan Menara UT tetap menjadi pusat aktivitas utamanya bersama sang kekasih, Laura Lee Cockrell.

"The Main Building was a central location for us," ujar Alan Bloebaum, Alumni UT Austin.

Mereka berdua sering menghabiskan waktu di area administratif kampus setelah menyelesaikan proses pendaftaran kuliah.

"Obviously, we went to the Registrar’s Office a lot," ujar Alan Bloebaum, Alumni UT Austin.

Tempat favorit mereka untuk belajar bersama di antara jadwal kelas adalah Reserve Reading Room yang terletak di sisi timur lantai dasar.

"We thought, wow, this is a great place. It was quiet. There weren’t any students in there." ujar Alan Bloebaum, Alumni UT Austin.

Ruangan tersebut dinilai sangat nyaman karena memiliki meja-meja panjang yang posisinya berada di dekat jendela.

"It was a big room, a lot longer than wide. On the right were windows." ujar Alan Bloebaum, Alumni UT Austin.

Kisah mengenai Menara UT juga dibagikan oleh alumni lain seperti Julianna Wanek, yang mengingat tradisi keluarganya saat berkendara menuju pertandingan sepak bola di Austin.

"The first person to see the Tower gets a nickel!" kata Nenek Julianna Wanek, Nenek Alumni.

Cerita sejarah lain datang dari Ben Smykal yang menjadi pemandu tur paruh waktu di menara tersebut pada tahun 1936, ketika jumlah mahasiswa kampus masih di bawah 7.000 orang.

"It was just Congress Avenue, then dog leg, dog leg and on to Dallas." kata Ben Smykal, Mantan Pemandu Tur.

Selain arsitektur dan sejarah, tulisan suci yang terpahat pada dinding batu Menara UT juga menjadi inspirasi mendalam bagi mahasiswa, termasuk ayah dari Shelton Vaughan pada awal 1950-an.

"Ye shall know the truth and the truth shall make you free" tulis Inskripsi Menara UT, Pesan Menara.

Pihak kampus saat ini tengah menjalankan program Our Tower: The Next 100 Years untuk menggalang dukungan publik dalam merestorasi serta melestarikan bangunan bersejarah tersebut bagi generasi mendatang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author